Travelers’ Tale (5) : Pontianak, 25-01-2009 (Tamat)

Siap-siap buat ke nikahannya temenku, Yeyen. Hmm…kamu masih inget gak Yen, taun lalu tanggal ini kamu buat “surprise party” buat aku hehehe … Pasti masih inget kan Yen? ;)) Heyyyy and today you have this big moment, congrat ya Say, “Barakallahulaka … “

Sebenernya inilah inti perjalanan kami yaitu menghadiri pernikahan seorang sahabat. Hari itu selesai dari acara nikahannya Yeyen, kami berjalan-jalan melihat sisi lain Kota Pontianak.

Kami mengunjungi Rumah Betang, sebuah rumah adat suku Dayak. Bangunannya berupa rumah panjang yang bisa dihuni oleh beberapa keluarga Suku Dayak. Rumah Betang itu sendiri hanya berupa bangunan rumah kosong dan tidak objek lain sehingga terlihat kurang menarik.


Dari Rumah Betang, kami menuju ke Tugu Khatulistiwa di Pontianak Utara. Sayang sekali kami tidak berkunjung pada tanggal 21-23 Maret atau 21-23 September. Hari-hari tersebut merupakan hari kulminasi matahari, yaitu matahari tepat berada di atas khatulistiwa sehingga bayangan benda di tempat ini menghilang. Tugu yang berada diluar merupakan tugu yang “baru”, sedangkan tugu aslinya ada di dalam bangunan museumnya.


Cuaca saat itu agak mendung, namun kami terus melanjutkan perjalanan. Kami mampir ke salah satu warung yang menjual es lidah buaya, waahhh ternyata enak juga lho. Tapi sayang, karena aku gak kuat minuman dingin pake es, jadinya cuma mencoba sedikit saja.









Setelah istirahat sejenak, kami melanjutkan ke Keraton Kadariyah. Istana tersebut konon dibangun oleh pendiri Kota Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman pada 1771 dan dihadapannya terletak Mesjid Jami yang dibangun pada tahun yang sama. Sayangnya tempat yang menuju Keraton Kadariyah berupa jalan kecil dan dikelilingi bangunan padat sehingga nampak kumuh karena kotor.


Selesai mengunjungi tempat-tempat itu, kami menuju pasar PSP di Jl. Pattimura. Shopping time. Karena sejak di Kuching belum berbelanja oleh-oleh, akhirnya kami berbelanja di Pontianak. Waaah banyak barang bagus, kain, assesoris, batu, dompet unik, dan tentu saja gak ketinggalan miniatur Tugu Khatulistiwa. Setelah merasa cukup, akhirnya kami kembali ke hotel.

Saat itu merupakan malam taun baru imlek. Di Jl. Gajah Mada, sepanjang jalan hotel tempat kami menginap, penuh sesak oleh orang-orang yang akan melihat pesta kembang api. Yups, malam taun baru imlek di Pontianak. Sangat rame … dengan pesta kembang api sepanjang malam dan hiruk-pikuk orang. Namun, karena lelah aku hanya melihat sebentar dan akhirnya menghabiskan malam itu dengan lelap sebelum besok siang kembali ke Jakarta.

Tiba di Jakarta, seorang teman menyapa melalui YM.
Temenku (T) : Iiih meni gak bilang-bilang mau ke Kuching.
Aku (A) : :D
T : Gapapa lah, yang penting neng Lies happy
A : :D
T : Tapi males aja mesti ngasih2 devisa ke Malaysia
A : hehehe…tp mesti diakui sih, kalo pemerintah sana lebih serius menggarap sektor pariwisatanya.
T : Yaa..tapi tetep aja males sama Negara yang ngaku2 punya batik, angklung, reog ..
......................

Dan beberapa hari kemarin rasanya gondok banget liat billboard iklan di Jl. Gatot Subroto, Jkt (dekat Wisma Mulia). iklan pariwisata Malaysia dengan latar bunga Raflesia yang besar. Padahal Bengkulu di negeri kitalah yang dijuluki Bumi Raflesia. Yaa..begitulah, pemerintah kita kurang memperhatikan sektor pariwisatanya, padahal potensi di Negara kita jauh lebih besar dan lebih bagus daripada yang dimiliki Malaysia.

Tulisan ini hanya ungkapan dari orang yang masih baru melangkahkan kakinya ke luar Bandung, kota yang akan selalu dicintainya dengan segala kenangan, keindahan, dan kesemrawutannya. I hope I’ll move back there someday.

----------TAMAT---------------


Travelers’ Tale (4) : Kuching – Pontianak

Sebelumnya : Part 1, Part 2, Part 3.

Sabtu, 24 Januari 2009

Subuh…subuh…Pagi-pagi sekitar pukul 6 kami sudah bersiap-siap. Cape sisa jalan-jalan kemarin gak terasa (padahal seharian kemarin, keliling Kuching Kota, kami tempuh dengan jalan kaki). Hari ini kami jalan menuju “Little Lebanon”, Pecinan, dan India Street Market. Kehidupan pagi itu baru saja menggeliat, para pedagang masih bersiap membuka tokonya. Namun, kami sudah berjalan melewati lorong-lorong pasar tersebut.

Setelah itu kami kembali menuju Waterfront dengan maksud menyebrang ke Kuching Utara dan mengunjungi Museum Kucing. Kami udah naik “angkot” eeeh tepat sebelum pergi, datang “angkot” lain yang dikemudikan preman yang kemarin. Si preman itu marah-marah, ngomong ke supir “angkot” yang kami tumpangi, kalo kemarin kami sudah janji mau naik angkotnya dia. Weh, perjanjian dari mana. Emang menyebalkan tuh preman. Nyebelin banget deh tuh orang, udah bikin be-te aja pagi-pagi. Itu pula mungkin yang dimaksud "Nila setitik merusak susu sebelangga", gara-gara satu orang itu, citra kami tentang Kuching yang tenang langsung rusak :D.

Daripada ribut, akhirnya kami balik nyebrang lagi, dan naik taksi ke Museum Kuching. Soalnya serasa gak lengkap aja ke Kuching tapi gak ke Museum Kuching. Berkunjung ke Museum Kuching juga gratis, tapi harus membayar RM 4 untuk kamera yang kami bawa. Tepat ketika kami tiba, datang juga dua bis rombongan turis, nampaknya dari Eropa. Ah penuh deh tuh museum.

Hmm…sebetulnya Museum Kuching hanya merupakan kumpulan foto-foto, patung, dan koleksi kucing dari seluruh dunia. Gak ada satu pun khas Malaysia, emang paling “hebat” nih Malaysia dalam mengklaim kebudayaan orang lain :D.

Akhirnya selesai juga sehari tour di Kuching. Tapi memang untuk menyusuri jalan-jalan di Kuching Kota sehari aja mengelilingi hampir semua tempat, dan cukup dengan jalan kaki, kecuali kalo ke Kuching utara.

Jalan-jalan hari itu terasa singkat karena kami harus kembali ke terminal untuk naik bis pukul 12 siang menuju Pontianak. Tiba di sekitar Jalan Tabuan sudah hampir pukul 11, namun kami masih tetap maksain ke Tingting Supermarket buat beli cokelat, sebetulnya gak cocok disebut supermarket karena tempatnya kecil. Jadinya dengan jalan cepat, kami kembali ke hostel, packing dan buru-buru cari taksi. Tapi karena Kuching kotanya kecil dan sepi, jarang sekali taksi yang lewat, sehingga kami harus berjalan menuju Merdeka Palace Hotel. Tinggal 20 menit lagi menuju jam 12. Uuuuh akhirnya dapet juga taksi. Untungnya jalanan di Kuching gak macet, jadinya dalam 15 menit kami sudah tiba di Terminal Batu Tiga.

Bis Damri yang kami tumpangi berangkat pukul 12.00. Oh ya bis terakhir dari Kuching tujuan Pontianak berangkat pukul 13.00 (waktu Kuching) karena semua kendaraan harus sudah melewati perbatasan Entikong yang tutup pukul 16.00. Nah karena perjalanan siang, kami bisa leluasa melihat jalan-jalan yang dilewati. Jalan dari Kuching menuju Tebedu (perbatasan Malaysia) cukup mulus dan kiri-kanan jalan hanya berupa tanah-tanah tebing hijau dengan pepohonan, jarang rumah penduduk. Sekitar pukul 15.00 kami tiba di Entikong. Setelah melewati pemeriksaan barulah kami memasuki kembali wilayah Indonesia.



Wilayah terdekat adalah Sanggau. Ups..langsung deh begitu keluar dari Entikong, yang terlihat banyak pemukiman-pemukiman penduduk yang (maaf) agak kumuh. Hal-hal yang kami lewatkan ketika pergi karena melakukan perjalanan malam. Yaaa begitulah jalanannya sih lumayan mulus dan rata, walaupun sekali-kali ada juga jalan berlubang, namun sisi kiri dan kanan jalan kebanyakan tidak terawat.

Satu hal yang tidak membedakan wilayah itu dengan tempat lainnya di Indonesia adalah spanduk, poster, dan baliho partai-partai yang bertebaran dimana-mana. Sebetulnya itu pemandangan yang menyebalkan. Pemasangannya yang sembarangan sangat merusak keindahan kota. Mending kalo kotanya indah, lah kota yang sudah semrawut makin semrawut dengan atribut partai-partai yang dipasang sembarangan.

Back to cerita Traveler’s Tale. Kami tiba di Pontianak pukul 21.00 dan setelah mengambil tas yang ditinggal di rumah teman, kami check ini di Hotel Gajah Mada. Seperti biasa, bukannya langsung istirahat dan tidur, setelah istirahat sebentar dan mandi, kami langsung menyusuri Jalan Gajah Mada untuk melihat satu sisi Pontianak yang ternyata cukup parah (maaf, ini cuma pendapatku yang melihat secara sekilas).

Sekitar pukul 23.00 kami kembali ke hotel dan karena lapar langsung menuju restoran hotel yang sepi banget, gak ada satu pun tamu di restoran itu kecuali kami. Ya iyalah, tamu lain mah dah pada tidur kali. Gak kerasa sudah tengah malam, tiba-tiba Mike bergumam…”eeeh Lies kan …” Oh ya ya?? Aku sendiri malah lupa tuh. Langsung deh cipika-cipiki dengan Mbak Ema yang kebetulan duduk sebelahan. Makasih ya temans. What a wonderful day.

Time to sleep, tapi mata ini malah susah terpejam. Sempet ngobrol bentar dengan Mbak Ema sebelum akhirnya terlelap. Menyambut besok, yang merupakan inti dari kunjungan kami ke Pontianak, a big day for my friend.

…bersambung…


Greeting From Michael Buble

Dapet PR nih dari Mbak Sinta :D. Tuuuhhhhhh kan bener, seperti yang aku posting disini, kalo akhir-akhir ini lagi musim Award dan PR. Dimana-mana orang lagi kena tag buat ngerjain PR. Kali ini PRnya berkaitan dengan lagu.

The Rules are….
A. Choose a singer/band/group
B. Put the picture of the singer/band/group
C. Answer using ONLY TITLES OF SONGS by that singer/band/group
D. Tag your friends according the ALBUM that singer/band/group already released

------------------------------------------------

OK…OK… I’ll do my homework.

A. For a singer, I choose Michael Buble.

B. Here is his picture.


C. Here are the questions and answers.

Male or female?
“DADDY’S LITTLE GIRL”

Describe yourself!
“HOW SWEET IT IS”

What people feel when they're around you?
“FEELING GOOD”

How would you describe your previous relationship?
“ALWAYS ON MY MIND” but actually it was just a “DREAM”

Where would you want to be now?
“HOME”

How do you feel about love?
“THE BEST IS YET TO COME”

What's your life like?
“WHAT A WONDERFUL WORLD” but sometimes I’ll say “THAT’S LIFE”

What would you ask for if you had only one wish?
“L-O-V-E”

Say something wise!
“TRY A LITTLE TENDERNESS”

What do you think of your bestfriend?
“EVERYTHING”

------------------------------------

D. I've finished my homework. Now it’s my turn to tag my friends (11 people) because Michael Buble has already released 11 Albums (according to his discography). So, I’ll choose:
1. Bitah, 2. Teh Eci, 3. Wendy, 4. Abie, 5. Mbak Li,
6. Andy (Warung 18), 7. Senoaji, 8. Semar.

Tapi siapa lagi yaaa??? ntar deh dicari dulu orangnya, eeeh ternyata Senoaji udah dapet PR yang sama dari Teh Linda...so...yang belum kesebut, siap-siap buat kebagian PR.

---------------------JUST FOR FUN----------------------------

Kenapa Sering Gak Bisa Nulis Komentar???

Mau nanya nih ke temen-temen blogger. Untuk tipe "Comment" di blog tuh kan ada tiga jenis, full page, pop up window, dan embedded below post. Nah, saya punya masalah untuk blog yang memakai tipe "embedded below post" seperti ini.


Pada kotak "select profile" itu seringkali tidak muncul apapun alias blank. Hal itu menyebabkan saya tidak bisa memberikan komentar untuk blog-blog yang menggunakan "Comment" tipe embedded below post. Kira-kira kenapa hal itu bisa terjadi yaa???

Seringkali udah pengen kasih komentar untuk tulisan-tulisan blogger lainnya, eeeh taunya gak bisa, nanti dikirinya saya gak pernah kasih balasan komentar kan gak enak juga. Ayoo para blogger, ada yang bisa bantu???


Travelers’ Tale 3 : Kucing di Kuching

Setelah Part 1 dan Part 2, sekarang lanjut dengan Part 3.

Dari area museum, kami berjalan melewati McDougall Road menuju Tabuan Road. Dari info yang kami peroleh, di Tabuan Road ada dua hostel, kami langsung menuju B&B Inn (ditulis juga kok di “Lonely Planet”). Begitu tiba di hostel itu, pintunya terkunci dan setelah di bell ada Mbak-nya dan bilang “Dateng lagi 30 menit, soalnya kamarnya mo diberesin dulu” Hahh??? Aneh aja. Akhirnya kami menuju ke hostel satu lagi “Borneo Seahare Hostel”. Eh pintunya dibuka oleh seorang perempuan berwajah oriental (yang masih memakai baju tidur yang hah???) dan kemudian muncul seorang perempuan Bule dengan pakaian yang hah??? juga. (Aku langsung mikir, duuuh ini tempat apaan?? Udah pengen balik kanan aja, ternyata semua temenku juga berpikiran sama hahaha…). Setelah ngobrol dengan bahasa Inggris kami yang terpatah-patah (untungnya dimengerti satu sama lain), mereka tuh bukan pemilik hostelnya, tapi nginep disana juga. So, kami nunggu dulu pemiliknya datang. Di tempat itu lagi ada yang nginep dua bule Jerman dan satu china Australia. Sempet ngobrol-ngobrol dikit, ternyata mereka akan check out sore itu menuju Singapura dan kemudian ke Jakarta (mo kondangan best friend-nya…jah, ternyata ada yang lebih jauh menghadiri undangan, dari Jerman ke Jkt, kami aja dari Jkt ke Pontianak rasanya dah jauh banget). Hmm…jadi akhirnya hanya kami yang menginap di hostel tersebut.

Pemilik hostelnya Wesley & Teresa, baik banget. Dengan berbekal print-an peta yang kami bawa, Wesley menunjukkan tempat untuk makan halal, dan tempat-tempat bagus untuk dikunjungi.

Setelah mandi dan beristirahat sebentar, sekitar jam 1 siang, kami meneruskan jalan-jalan. Makan siang di daerah “Green Hill Road” terus jalan kaki ke Chinese History Museum. Lagi-lagi di Museum itu gak ada apa-apanya. Mirip ruang pamer dalam kotak besar, belum layak disebut museum :D. Karena tempatnya deket Waterfront, kami langsung jalan-jalan di sekitar Waterfront Kuching yang tertata dengan baik dan tentu saja bersih. Kami menyebrangi Sungai Serawak memakai sampan (cuma bayar 50 sen) dan tiba di Kuching Utara. Tadinya mau ke Museum Kuching, tapi kok ada “preman” menyebalkan disana. Kami dipaksa naik ke semacam “angkotnya” dan disuruh bayar RM 30 buat dianterin ke Museum Kuching terus jalan-jalan di Kuching Utara. Iiih males amat, lagian tuh orang maksa banget. Dengan gondok, akhirnya kami kembali nyebrang ke Kuching Selatan dan jalan-jalan lagi di Waterfront.

Suasana waterfront Kuching dengan sampan-sampan yang banyak terdapat di Sungai Serawak

Tiba-tiba kami mendengar suara music “degung” Sunda, dan langsung mencari-cari asal bunyi itu. Suara musiknya berasal dari sebrang sungai sisi lain, yang menurut info, tempat disana bernama “Kampung Gresik”, dan kampung-kampung lainnya yang bernama Indonesia. Mungkin dulunya (atau sampai sekarang) banyak WNI yang tinggal disana.

Ternyata lumayan banyak juga turis mancanegara yang lagi jalan-jalan di sekitar Waterfront Kuching, lengkap dengan tentengan “Lonely Planet”. (Jadi inget cerita perjalanan di buku “Honeymoon with My Broter”, katanya buang saja semua buku panduan itu. Kalo kami, daripada beli “Lonely Planet” yang jelas-jelas mahal untuk ukuran kantong orang Indonesia, mendingan cari-cari info di internet, lebih update dibanding di “Lonely Planet”). Ada satu tempat yang sebetulnya ingin kami kunjungi, Fort Margeritha, tapi sayangnya tempat itu ditutup, entah untuk diperbaiki atau apa karena gak ada keterangan lain.

Dari waterfront, kami jalan-jalan mencari patung-patung kucing. Wew…ternyata (mentang-mentang) namanya Kuching, banyak banget patung kucing di seantero kota. Salah satu yang terbesar terletak di bunderan di depan Holiday Inn Kuching.

Salah satu patung kucing di Kuching

Masih melanjutkan jalan-jalan keliling kota, kami pindah ke sisi yang lain. Sore hari, kami menuju Main Bazaar Road, pusat souvenir. Ternyata gak ada yang khas di toko-toko souvenir itu. Barang yang banyak disana, kaos-kaos dengan tulisan “Serawak”, assesoris khas Kalimantan, tas etnik yang di Yogya jauh lebih bagus, dan kotak kayu jati dengan tulisan “Serawak”. Untuk kotak kayu jati itu jadi “special case” buat kami. Karena di antara kami sebelumnya pernah ke Cepu (dengan waktu dan lama kunjungan yang berbeda) jadinya kami tahu bahwa kotak-kotak itu sama persis dengan yang kami lihat langsung di tempat pembuatannya di Cepu. Jadinya gak terlalu tertarik belanja souvenir di sana, karena justru gak ada barang khas-nya Kuching.

Dari Main Bazaar, kami masuk ke “Sarawak Steamship Building” yang sekarang menjadi pusat souvenir juga. Sempat tawar-menawar assesoris (walaupun gak jadi beli), sempat ada kejadian lucu saat ngobrol dengan penjaga toko, kurang lebih gini deh :D

Penjaga toko : Ayo kak, gelang ini bagus, pasti seronok kalo dibeli
Kami : Bengong…sambil mikir (apa??? Seronok?? kayanya tau artinya deh kalo nonton film dengan subtitle Malay, tapi apa yaaa?? Lupa!! Kayanya bukan sesuatu yang aneh kok).
Penjaga toko : Iya kak, untuk dipake kalo suasana seronok ....
Kami : (Masih bengong) … akhirnya nanya, Seronok apa ya??
Penjaga toko : (ketawa) yaa… seronok, happy … happy …
Kami : Oooooooooooooo….

Akhirnya kami keluar tanpa membeli apapun sambil ketawa-ketawa, hahaha…dasar!! Gini nih, kalo gak ngerti bahasanya. Malamnya kami jalan-jalan masih keliling kota dan makan malam di Waterfront yang semakin malam semakin ramai. Capeeee…tp seronok, eh maksudnya happy :D. Back to hostel, bukannya tidur tapi malah baca-baca buku yang ditinggalkan di rak buku di ruang TV oleh para “backpacker” dan tentunya banyak “Lonely Planet” di sana. Masih ada setengah hari esok untuk melanjutkan jalan-jalan di Kuching.

…bersambung…


Lagi Gila Award

Entah apa yang merasuki para blogger belakangan ini, yang jelas dimana-mana sedang terjadi pembagian Award :D. Mungkin kalo cuaca tuh ada musim hujan dan musim kering, nah pada komunitas blogger sekarang lagi musim Award (dan kayanya lagi musim pembagian Pe-eR juga :D).

Menurutku pembagian award ini menunjukkan beberapa trend di kalangan blogger (halah, aku ngomong apaan ya??).

1. Persahabatan yang semakin meningkat di antara sesama blogger
2. Semua blogger merasa bertanggung jawab untuk menjadikan blog-nya lebih baik dan bermanfaat.
3. Dipaksa untuk menulis, baik yang nge-tag maupun yang di-tag, pasti akan berusaha mengerjakan Pe-eR-nya sebaik mungkin.
4. Apalagi yaa?? Hayooo...ada yang mau nambahin???

Nah aku dapat award lagi. I got these 3 Awards from Mbak Fanda (Thx ya Mbak):


Dan 1 Award dari Itik Bali nan Ayu (Makasih banget Ayu):


Sekarang aku mesti fwd awards tersebut buat temen bloggerku yang lain. Tapi karena bingung, hampir semua blogger sudah menerima award, misalnya Jonk, Neng Aia, Teh Linda Belle, Mbak Li, Mocca Chi, Zener, E-Je, Abie, kayanya semua udah pada nerima (kalo yang belum, diambil ya awardnya) :). Aduuuuuuuhhhhh terlewat, special buat Bitah, ambil ke-empat award itu ya :D.

Jadi, untuk semua temen-temenku yang ada di Blog List aku (More Friends) silakan ambil awards ini, dan semoga makin tambah semangat nge-blog-nya.

Waaaaaaahhh …. Dapat Award

Well, kemarin malam ketika buka blog, ada pesan dari Mbak Fanda, katanya aku dapet award. Waaaaaaahhhhhhhhh....kejutan .... dapat Award dari Mbak Fanda :). Makasih ya Mbak. Ini dia award-nya :

Mbak Fanda ngasi award itu untuk sepuluh orang blogger dan salah satunya aku. Di sana ditulis sedikit review mengenai isi blog-blog itu, dan reviewnya buat aku adalah:

Lies (Laisya and Her World)
Aku suka cara Lies mengungkapkan 'dunianya', bagaimana ia mengambil hikmah dari pengalaman-pengalamannya. Tulisannya pun enak diikuti. Keep up the good working, friend!

Wow, what a nice review :)

Awardnya sendiri bernama Traffic Award dan bertujuan untuk ... hmm...bentar-bentar, aku co-past deh dari tulisannya Mbak Fanda:
"Sesuai dengan namanya, tujuan utama dari Traffic Award ini selain untuk meningkatkan persahabatan, juga untuk bekerja sama meningkatkan traffic. Lewat award, kita memberikan link back kepada blogger lain, dan tambahan motivasi bagi blogger tersebut untuk semakin giat membangun blognya menjadi semakin hari semakin baik."

Aku sendiri pada awalnya nge-blog buat share pengalaman sehari-hari, dan awalnya tidak terlalu sering blogwalking. Namun, lama-lama aku menemukan banyak blog dengan tulisan-tulisan menarik sehingga selain menambah wawasan juga bisa menambah teman, dan tentunya mengasah kemampuan menulis dan otak-atik desain blog.

Hmm…sekarang aku harus fwd award ini. Bingung buat siapa, karena penilaiannya harus objektif dan tidak hanya berdasarkan sering tidaknya seseorang berkunjung ke blog kita. Ah aku kasih buat ini aja deh:

Uphank (MILANISTI SEJATI)
Sebetulnya banyak blog milanisti, namun aku pilih yang ini. Blog yang khusus membahas AC MILAN, mulai dari up date pertandingan terakhir, cuplikan gol, klasemen, dan berita-berita tentang AC MILAN dan liga Italy umumnya. Desain blog-nya pun OK, rossoneri banget.

Teh Eci (Dongeng Hidup)
Cara Teh Eci menceritakan dongeng hidupnya sangat menarik dengan kadang-kadang memakai bahasa puitis dalam tulisannya. Tak jarang postingan yang dimuat kok mirip dengan kondisi yang pernah aku alami, kenapa ya Teh? Hehehe…

Mocca Chi (Bintang Utara)
Sang empunya blog men-tag Bintang, Mimpi, dan Harapan sebagai tema blog-nya mengingatkan para pembaca dengan cerita-ceritanya bahwa masih banyak bintang, mimpi, dan harapan yang akan selalu menemani.

Kang Cantel (Canary Road)
Walaupun blog ini jarang diupdate, tapi tulisan-tulisan yang ada terutama becerita mengenai perjalanan dan pengalamannya sangat enak untuk diikuti, selain tentunya menambah wawasan. Sayang sekali, tulisan dengan judul “The Sundanese Dilemma” sudah dihapus oleh yang empunya blog, padahal penasaran banget dengan lanjutannya.

Li (Ekspresi Diri)
Blog yang bertema “All About Life, Love, and Humanity” ini kadang menghadirkan postingan mencengangkan seperti tulisan terakhirnya yang berjudul “Kisah Rani”. Ditunggu kisah-kisah selanjutnya ya Mbak.

Sebetulnya semua blog temen-temenku layak diberi Award ini, I love all my friends’ blog. Tapi kalo disuruh nulis review-nya satu-satu haduuuuhhh…. OK OK semangat blogging jalan terus. Keep blogging friends.


Your Outfit and Shoes

---lanjutan Travelers' Tale-nya ditunda dulu ----

Hari ini Ahad, 15 Maret 2009 pulang dari undangan pernikahan teman, aku (dan temanku) langsung mampir ke Plaza Senayan (PS). Jelas donk kami masih pake baju kondangan. Aku pake blouse semi kebaya dengan bawahan rok batik dan high heels, temenku pake batik lengan panjang, celana hitam, dan sepatu kebanggaannya :D.

Gak jelas juga sih mau ngapain ke PS, tapi setelah mengalami hari sabtu dengan hampir “mati kebosanan” di kost, jalan-jalan merupakan solusi tepat. Dari mushola, kami hendak menuju Metro, dan melewati counter sepatu R yang lagi diskon 40%. Huaa..langsung deh “insting berburu sepatunya” kambuh. Nemu satu model flat shoes yang bagus dan enak di kaki, langsung tertarik. Tapi gak ah, mending lanjut ke Metro. Di Metro ternyata sama aja, lagi sale, sepatu disc. Up to 50%, bikin ngiler, tapi sudahlah, lebih baik aku tutup mata saja, dan akhirnya selamat dari berbelanja (minggu kemarin abis nonton “Confession of a Shopaholic” parah tuh, ada orang yang gila belanja kaya gitu). Setelah itu mampir ke Sogo, di sisi lain PS, yang lagi sale juga. Emang dalam rangka apa nih semua toko pada sale???

Setelah kaki terasa pegal dan perut menggeliat minta diisi, pergi ke food court merupakan pilihan bijak (btw, ada lho temenku yang marah-marah kalo lapar :D). Ternyata kami berdua punya pikiran sama sambil jalan-jalan hari ini. Karena pakaian kami yang resmi dan rapi, rasa-rasanya para SPG di toko-toko lebih ramah menyambut kami, tersenyum, silahkan liat-liat, yaaa…pokoknya beda lah. Aku bilang ke temenku, kalo kita jalan pake baju nyantai (kaos) dan alas sandal jepit (bukan swallow lho :P), sikap mereka biasa aja ya, gak pernah tuh beramah-ramah kaya gitu. Temenku mengiyakan setuju. Akhirnya kami pun berdiskusi gak penting (seperti biasa, mana pernah sih aku dan temen-temen “satu genk-ku” diskusi penting, pasti kalo kumpul kami berdebat hal-hal sepele).

Diskusi berlanjut, emang kebiasaan orang-orang sini yang masih liat orang lain dari penampilan luar. Yaa SPG-SPG itu mungkin menyangka, seseorang yang berpakaian rapi, menawan, elegan, mereka “lebih layak dihormati” dibandingkan orang lain yang berpakaian cuek. Padahal belum tentu juga toh, lihatlah Bob Sadino.

Atau mungkin mereka berpikiran, seseorang dengan berpakaian resmi, elegan, dan rapi, siap membelanjakan uangnya disana. Wakakak…belum tentu juga kan. Misalnya kami yang maen ke PS Cuma mau window shopping aja. Eh jadi inget film “Pretty Woman” ketika Julia Robert disuruh keluar dari salah satu butik di Rodeo Drive karena dandanannya yang “wah”.

Jadi, seperti kata pepatah, “Don’t judge a book by its cover”, karena “topeng-topeng” itu bisa menipu.

Note: Alhamdulillah berhasil menahan diri gak beli sepatu. Padahal udah nyari di tiga tempat, sampe nyebrang ke Senayan City, eeehhh…taunya gak ada nomornya. Jadi, ini berhasil menahan diri atau gak beli sepatu karena gak ada ukuran??? Hehehe…yang penting berhasil gak belanja :P.

Sambil posting liat livescore ... horeeeeeeeeeee .... MILAN menang lagi ... Siena 1 - 5 AC MILAN.


Travelers’ Tale (2) : Langkah Kecil di Kuching

Part 1 bisa dibaca di sini :)

Jumat, 23 Januari 2009

Setelah perjalanan semalaman kami merasa lapar. Cari-cari makan di sekitar terminal. Oh ya, jangan bayangin terminalnya sama dengan terminal di Jakarta. Beda jauh. Di sini terminalnya sepi hanya ada deretan loket beberapa perusahaan bis dan satu atau dua bis berjejer di depannya. Kemudian ada beberapa taksi yang menunggu penumpang. Tapi gak ada tuh yang namanya bis kota atau angkot-angkot yang memenuhi terminal. Jadi terminalnya sepi dan lumayan tidak terlalu penuh polusi. Satu hal yang membuat kami senyum-senyum geli (bilang aja ngakak) adalah bahasa Melayu yang digunakan, lucu banget. Misalnya “Dilarang membuang sampah merata-rata” atau toilet umum yang bahasa sononya jadi “Tandas Awam” :D.

Dari terminal kami keluar menyebrang jalan. Di sana ada deretan ruko-ruko dan beberapa tempat makan yang sudah buka. Kami mulai mencari tempat makan. Agak bingung juga sih karena beberapa tempat makan bertuliskan huruf Cina dan memajang merk-merk bir, haduuuhh. Akhirnya kami menemukan tempat makan yang tepat, namanya Café Al Kautzar. Harga makanannya bervariasi mulai dari RM 3,5 (saat itu RM 1 = IDR 3.200), minuman dan cemilan mulai dari RM 1. Karena masih sama-sama daerah Melayu, rasa makanannya gak masalah di lidah.

Selesai sarapan kami menuju jalan berikutnya untuk naik bis ke pusat kota Kuching. Dari info yang aku baca di internet, bis jarang lewat jadi bisa naik taksi dari terminal ke kota. Tapi yaa namanya juga jalan-jalan dengan budget terbatas, kami memilih berhemat. Setelah sebelumnya tanya-tanya ke petugas di loket Damri di terminal, kami jadi tau kalo menunggu bis gak terlalu lama kok dan kami juga tidak terburu-buru. Sekitar 5-10 menit kami menunggu bis, dan akhirnya datang juga. Bisnya kaya bis-bis gede non AC di Jakarta, tapi lebih luas karena seat-nya 2-2 dan lumayan bersih, gak penuh sesak penumpang. Ongkos bis RM 1. Di dalam bis kami mendengar lagu Agnes Monica (hahaha…emang penyanyi Malaysia sepertinya kalah pamor di negerinya sendiri, karena seringkali di jalanan, café, atau toko-toko, kami mendengar lagu-lagu penyanyi Indonesia, pantesan pemerintah Malaysia sempat mengancam peredaran lagu-lagu penyanyi Indonesia disana).

Mulailah perjalanan di bis, jalan-jalan yang dilewati bagus dan lalu lintas ramai lancar (weks kaya traffic report aja). Untuk ukuran kota di “pedalaman” Kalimantan, suasananya bagus banget, tertata rapih. Gak ada kemacetan padahal itu jam orang-orang dalam perjalanan ke kantor. Kebanyakan orang memakai mobil negerinya sendiri, Proton. Satu atau dua orang penumpang naik dan turun bis. Gak berdesak-desakan, bis lengang karena gak ada penumpang berdiri. Setelah sekitar 30 menit bis tiba di “terminal” kota “ (Petra Jaya Transport) yang merupakan daerah pasar kalo di Jakarta dan bersebrangan dengan Masjid Kuching. Hmm…sekali lagi, jangan bayangkan pasar dan terminal dalam kota di Jakarta. Jauh euy.

Nah itu dia, Kuching Divisional Mosque. Salah satu tempat yang kami lihat juga di inet. Berbekal print-an peta dari inet, akhirnya kami tau kalo objek wisata lainnya berada di sekitar sana juga. Dengan backpack yang lumayan berat dan bikin punggung pegal, kami menyusuri jalan menuju Padang Merdeka. Sebuah taman di depan Merdeka Palace Hotel. Taman yang luas, bersih, rapih, tapi sepi. Sepanjang jalan, hanya kami yang berjalan kaki. Mungkin karena orang-orang sudah pada masuk kantor. Aah tapi yang jelas kalo di Jakarta jam segitu, lalu lintas lagi rame-ramenya dengan suara klakson bersautan. Tapi disana semuanya sepi, hening, jalanan tidak menyapa kami dengan ramah. (yee..emangnya jalanan punya mulut untuk berbicara hehehe…)

Kami terus menyusuri jalanan itu sampai tiba di Serawak Museum yang satu komplek dengan Islamic Museum. Kami memilih berkunjung ke Islamic Museum lebih dulu. Eeeh taunya mesti minta ijin dulu ke Serawak Museum buat ambil gambar. Jadi gini, untuk masuk ke Museum di Serawak gak bayar alias gratis, tapi kalo mau foto-foto mesti minta surat ijin dulu. Akhirnya kami ke Museum Serawak minta surat ijin, gak ribet sih. Hanya isi form nama, nomor paspor, dan asal kami (well kami bilang aja dari Pontianak). Petugas adminnya baik kok. Setelah beres semua perijinan foto, kami melanjutkan keliling museum di daerah itu. Ada Islamic Museum, Museum Serawak, Museum Etnologi, Museum Seni, etc. Semuanya dalam satu daerah, deket banget, bisa ditempuh jalan kaki.

Kalo pernah mengunjungi museum-museum di Indonesia pasti Cuma bengong pas mengunjungi museum di Serawak (gak ada apa-apanya). Koleksi Museum di Indonesia (terutama yang ada di Jakarta) jauh lebih banyak, bagus, dan kumplit. Di Serawak sih apapun itu kayanya dipajang. Apalagi Museum Seni Serawak, yang ada kami terbengong-bengong doank. Hah, Cuma segini doank, payah amat. Beneran deh, jauh lebih lengkap koleksi Museum di Indonesia. Tapi untuk kondisi kotanya, Kuching memang lebih bersih dan tertata.

Waktu saat itu sudah pukul 11 (10 di Jakarta), gerah banget padahal cuaca tidak terlalu panas. Ya iyalah, setelah semalaman di jalan dan belum ada yang mandi, gimana gak gerah?? Badan dah kerasa gak enak, pengen mandi, so saatnya mencari penginapan. Kami beneran nekad banget, belum booking satu pun tempat nginep, hayooo…gimana nih??

bersambung….

*photos by Mike (kita mah yang cewek2 pengennya difoto mulu :D).


Travelers’ Tale* (1) : Eh Eh Kok ke Kuching?

Sebetulnya perjalanan ini dilakukan Januari kemarin, berarti sudah dua bulan berlalu. Namun, entah mengapa baru ingin menuliskannya sekarang. Lebih tepatnya rencana ini dimulai akhir Desember tahun lalu. Salah satu temanku mengabarkan bahwa dia akan menikah tanggal 25 Januari 2009 di Pontianak. Well, as one of her best friend, I promise her that I’ll come to her wedding. (Benar-benar menghadiri undangan terjauh nih. Bahkan saat one of my bro married di Sampit beberapa tahun yang lalu aja aku gak datang :D) Hmm…padahal pertengahan desember kami sudah merencanakan akan backpacking ke Lampung tanggal segitu karena long weekend (pas libur imlek). Namun, akhirnya backpacking ke Lampung (plus Bengkulu) jadi merupakan perjalanan menutup akhir tahun 2008 kemarin.

So, the journey began. Tiket pesawat dipesan untuk keberangkatan 24 jan pagi, penerbangan pertama. Trus searching di internet deh tempat-tempat wisata di Pontianak. Nah itu dia, pas searching di internet kok nemu tulisan tentang perjalanan dari Pontianak ke Kuching pake bis (8 jam perjalanan, lebih singkat dari Bengkulu-Lampung yang 17 jam). Wah jadi tergoda juga nih. Baca-baca deh. Wuiiih kayanya menarik juga. Akhirnya aku e-mail teman-teman yang lain dan ngasi tau tulisan itu. Dan asiknya tuh, temen-temen pada tertarik juga karena toh kami semua sudah punya passport, jadi gak terlalu ribet. Ya udah, telpon temenku buat ngubah tiket keberangkatan dari yang asalnya 24 jan pagi maju jadi 22 jan sore. Sayangnya Garuda gak ada penerbangan langsung ke Kuching, ya sudah tetep terbang ke Pontianak. Selain itu kami juga cari-cari info bis Pontianak-Kuching dan langsung telpon ke Pontianak untuk pesen tiket keberangkatan ke Kuching tanggal 22 jan malam hari.

Kamis, 22 Januari 2009
Hari itu kami berempat hanya menghabiskan setengah hari di kantor. Ceritanya ijin nih, ngomong ke Bos mau ke Kalimantan :D. Akhirnya diijinan juga buat cabut dari kantor. (Untunglah kami berempat tidak berada di satu bagian yang sama, kebayang kalo berada di bagian yang sama, mana mungkin Bos langsung ngijinin 4 anak buahnya cabut sekaligus hehehe…)

At 1 p.m. kami naik taksi ke Cengkareng via Tangerang, dan setelah melewati semuanya kami masuk ke Terminal 2F. Langsung boarding etc. Ketika menunggu pesawat tiba-tiba dua orang temenku (Mbak Ema dan Mike) dipanggil oleh petugas Garuda, eeeehhhhhhh taunya mereka dapet “durian runtuh”. Karena kesalahan teknis dll, tempat duduk mereka di-upgrade ke kelas Bisnis. Hohoho….haduuuuh what a lucky day for them. Sementara aku dan Mbak Risna tetep di kursi kami di kelas Ekonomi.

Pesawat take off jam 15.40 WIB, penuh banget. Di dalam pesawat serasa lagi perjalanan ke Hongkong ato China karena saking banyaknya orang-orang berbicara bahasa itu (yaa abisnya bertepatan dengan waktu mereka mudik untuk imlek sih, jadinya peak season tuh penerbangan ke Pontianak).

Lima puluh menit kemudian kami tiba di Bandara Supadio Pontianak. Sang calon pengantin alias Yeyen udah nunggu jemput kami. Kami naik taksi dan menuju rumah Yeyen di daerah Jln. Abdurahman Pontianak. Setelah solat maghrib, kami langsung kuliner makan mietiaw, minum es tahu, dan es jeruk nipis. Minuman aneh tapi enak. Sekitar pukul 8 malam kami pamit untuk melanjutkan perjalanan menggunakan Bis Damri ke Kuching yang akan berangkat pukul 9 malam.

Oh ya, fyi, dari Pontianak ke Kuching ada beberapa bis, dua bis punya Indonesia (Damri dan SJS) dan beberapa bis punya Malaysia (Eva Bus, Biaramas, dll). Menurut info yang kami baca, lebih nyaman pake bis Indonesia. Ongkos Bis Pontianak-Kuching Rp 165.000,- kalo pake Damri, kalo pake yang lain sih bervariasi sekitar itu juga. (Oh ya semua surat-surat perjalanan diurusin sama petugas Damri, kita terima beres).

Kondisi bis cukup nyaman kok. Saat itu penumpangnya gak penuh. Ternyata bis gak berangkat tepat pukul 9 malam, tapi agak molor setengah jam. Mulailah perjalanan kami menuju utara. Melewati dua sungai besar (Kapuas dan apa yaa satu lagi?? Lupa), melewati juga Tugu Khatulistiwa. Karena perjalanan malam akhirnya dilewatkan untuk tidur. Sekitar pukul 11 malam bis istirahat di sebuah rumah makan di Jl. Raya Anjungan (seperti tertera di papan namanya) entah daerah mana. Kemudian bis melaju lagi, dan aku bener-bener tertidur lelap. Tapi terasa sih, jalan-jalan yang dilewati lebih mulus dibandingkan jalur darat dari Bengkulu ke Lampung. Bis berhenti lagi jam 2.45 dinihari, kali ini entah dimana dan tidak tertarik untuk mencari tau karena cape dan ngantuk.

Finally, pukul 5 pagi bis tiba di perbatasan Entikong. Nah ini dia gerbang imigrasi darat untuk masuk ke Malaysia. Kami turun dari bis dan sekumpulan calo sudah berkerumun di sana. (Duuuh dimana di negeri ini yang bebas calo??). Kami antri di loket imigrasi untuk mengecap paspor dan pemeriksaan surat-surat perjalanan. Setelah itu masuk ke kantor imigrasi Malaysia, pemeriksaan paspor, surat-surat dan tas. Hmm....yaa gitu deeeeehhhhhh. Setelah beberapa lama kami meneruskan perjalan kami. Langit sudah mulai terang. Beberapa kilometer dari situ bis berhenti. Oooo ternyata ada pemeriksaan oleh polisi perbatasan. Tampangnya serem-serem. Entah mengapa, melihat polisi-polisi itu aku jadi ingat para TKI di Malaysia. Pemeriksaan lancar. Perjalanan dilanjutkan. Jalanannya bagus, dengan sisi kiri dan kanan jalan perbukitan dan hutan-hutan yang masih hijau. (Tadi malam selama perjalanan dari Pontianak ke Entikong gak liat-liat kiri kanan jalan karena gelap.)

Pukul 8 pagi kami tiba di terminal Batu Tiga Kuching. Kami turun dari bis dan tidak ada tuh serombongan calo yang menyerbu kami. Terminalnya rame oleh penumpang dan beberapa penjemput, tapi tidak Nampak satu pun calo. Begitu tiba, kami langsung menuju loket Damri untuk pesan tiket (harganya RM 45)kembali ke Pontianak keesokan harinya. Ayo-ayo saatnya berpetualang. …. bersambung

*Traveler’s Tale (terilhami oleh judul novel "Travelers’ Tale : Belok Kanan Barcelona " karangan Aditya Mulya, dan istrinya Ninit Yunita, serta dua pengarang lainnya)


Marvelous March

Mau posting soundtrack Bulan Maret. Setelah Februari kemarin soundtrack blog ini adalah February Song (Josh Groban), sekarang giliran lagu "Diam Tanpa Kata" (D'Massiv). Hmmm ... gak nemu lagu yang judulnya ada kata-kata Maret atau March sih (masa mo Radetzky March :D), jadi ya udah soundtrack Bulan Maret lagu ini aja. Kenapa milih lagu ini ya?? Well, lagunya udah cukup lama, tapi kebetulan tadi sore kok ngeliat Rahmi (Idola Cilik) nyanyi lagu ini walaupun dengan versi yang agak beda. So, this is the official March Soundtrack of this blog :D. Yang gak tau lagunya, cari aja sendiri :P.

Diam Tanpa Kata
- D'Massiv -

Kau Diam Tanpa Kata
Kau Seolah Jenuh Padaku
Ku Ingin Kau Bicara
Katakan Saja Apa Salahku

Sungguh Aku Tak Mengerti
Apa Yang Telah Terjadi Dan
Ku Tak Ingin Kau Pergi Jauh Dari Hidupku

Reff :
Kau Takkan Pernah Sadari
Betapaku Mencintaimu
Kau Yang Selalu Aku Banggakan

Ku Ingin Kau Bicara
Katakan Saja Apa Maumu
Lihat Aku Coba Kau Mengerti

Ini Semua Bisa Teratasi
Resapilah Semua Yang Pernah Kita Lakukan

Kau Takkan Pernah Sadari
Betapaku Mencintaimu
Kau Yang Selalu Aku Banggakan

Kau Takkan Pernah Mengerti
Betapaku Menyayangimu
Kau Yang Selalu Aku Inginkan

Kau Yang Kuinginkan…
Kau Yang Kubutuhkan…
Kau Yang Kuharapkan…


Note : Aku bukan fans-nya D'Massiv :P. Cuma satu lagu ini aja kok yang aku suka. Buat Catur, Mbak Ema, Mike, jangan protes kalo baca ini hehehe ... kalian pasti enek kalo sampe denger lagi lagunya.

Ten Things I Hate About …

Eh kaya film aja nih judulnya, tp yang jelas sih bukan mau nge-review film “Ten Things I Hate About You”. Postingan ini sebenernya mo ngerjain PR lama dari Jonk … Maaf ya udah lama banget baru bisa ngerjain. Ceritanya nih, Jonk nodong aku buat nulis tentang 10 hal (boleh lebih sih) mengenai hal-hal yang nggak aku suka (kenapa juga nggak mengenai hal-hal yang disukai ya?? Padahal kan lebih asik tuh). OK deh, namanya juga PR, jadi seperti anak sekolahan yang rajin, aku akan ngerjain PR-nya.

Btw, ini nih syarat2nya, aku co-past dari blog-nya Jonk:
1. Buatlah daftar 10 hal dan kebiasaan (buruk) yang tidak disukai, namun apabila merasa terdapat lebih dari 10 hal/kebiasaan buruk yang tidak disukai maka silahkan ditulis semuanya.

2. Sebutkan juga alasan mengapa Anda tidak menyukai hal-hal/kebiasaan-kebiasaan tersebut.

3. Setelah selesai membuat daftar dan penjelasan seperti yang tertera pada poin 1 & 2, maka silahkan men-tag 10 blogger lainnya.

Tujuan dari tag ini adalah:

By doing this we will see what kind of bad things and bad habits are the most mentioned by bloggers, and hopefully we will awake every blogger’s consciousness to be refreshed, and finally we will leave those habits behind us.

Untuk mengetahui hal2 buruk dan kebiasaan2 buruk seperti apa yang paling banyak disebutkan oleh para blogger, dengan harapan (bersama-sama) kita dapat membangun kesadaran kita dan menanggalkan kebiasaan2 atau hal-hal buruk tersebut.

OK, I’ll try to write “Ten Things I Hate About …” hmm.. in random order aja ya:

1. Aku gak suka acara-acara gossip di TV. Mau disebut infotainment kek, berita selebritis kek, tetep aja gak suka. Bener-bener acara gak penting dan gak ada manfaatnya. No offense ya buat temen-temen yang suka acara gossip ini.

2. Aku gak suka sama berita-berita negative atau berita kontroversi apalagi kalo ditayangin pagi-pagi. Bikin bad mood seharian tuh. Misalnya ada berita pembunuhan atau berita kaya dukun cilik di siaran berita pagi. Payah deh … masalahnya masyarakat kita tuh belum bisa milih-milih dengan “cerdas”. Jadi berita yang ada bukannya sebagai peringatan malahan ditiru. Misalnya berita Ponari dukun cilik itu, eeeh akhirnya muncul dukun-dukun cilik lainnya meniru-niru Ponari Sweat :D

3. Aku gak suka sama sinetron. Enek banget nonton adegan yang antarpemainnya cuma saling teriak gak jelas, saling memaki, etc. Apalagi sinetron di salah satu tv swasta ind***ar, wah payah banget deh, pake acara dubbing segala.

4. Saking banyaknya acara gossip, sinetron, dan berita aneh di TV, akhirnya membuat aku gak suka nonton TV.

5. Aku gak suka kalo harus nunggu lama. Jadi kalo lagi janjian dan temenku datang telat, wah bisa be-te deh … apalagi kalo gak bawa buku, bengong doank deh sambil nunggu. Hmmm…tp aku juga bukan orang yang selalu tepat waktu sih, Cuma gak pernah kok kalo ngaret2 amat :P

6. Aku gak suka keadaan yang terlalu rame. Pernah ke pameran buku pas hari terakhir alias penutupan. Fuih…penuh banget. Boro-boro pengen liat dan beli buku, yang ada malah pusing.

7. Aku gak suka orang yang menganggap remeh orang lain. Terutama kalo senior yang menganggap junior gak tau apa-apa. Yeee emangnya junior2 mau “diperbudak”?? (wekekek … curhat keadaan kantor ini mah).

8. Aku gak suka kalo lagi kena alergi, soalnya kulit bakalan merah-merah.

9. Aku gak suka kalo ada orang yang menilai orang lain dari keadaan fisiknya. Tinggi – pendek, hitam – putih, gendut – kurus, cantik – cakep, so what gitu lho?? Kita semua punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Don’t judge a book by it’s cover (lho kok jd ngomongin buku ya??? Hahaha …) Yaaa…pokoknya jangan terlalu cepat menilai orang lain dari fisiknya lah.

10. Aku gak suka sama orang yang menghambur-hamburkan energi, tidak ramah lingkungan, buang sampah sembarangan, etc. Yaa…misalnya kalo ada peralatan elektronik gak digunakan, sebaiknya kan dimatikan (sampe-sampe aku sering disebut “Miss Hemat Energi” nih sama tetangga sebelah :D).
Kalo belanja sesuatu, tolak kantong plastiknya (kalo bisa) dan langsung masukan ke tas yang kita bawa.
Kalo mo buang sampah dan belum nemu tempat sampah, jangan buang sampah sembarangan donk, simpen dulu di tas. Lho kok jadi kaya iklan layanan masyarakan ya??? Hehehe…gak apa-apa deh.

Nah sekarang aku mau tag 10 orang. Siapa aja ya??
1. Teh Eci, 2. Bitah, 3. Kang Cantel, 4. Zener, 5. Mbak Shinta, 6. Kang Ican, 7. Zainal, 8. Teh Dema, 9. mocca_chi , 10. Dwina. (Tadinya mau masukin nama Kang Evan, tapi gak jadi, soalnya dia udah dapet PR yang sama dari Ranie :D ).

Harus dikerjain ya PR-nya :D. Lama juga gak apa-apa kok.

Wah ketinggalan nih satu lagi:
11. Aku gak suka ruangan yang berantakan ... sareukseuk ninggalina (naonnya diterjemahkeun ka bahasa indonesia-na???) hehehe...mestinya judulnya jadi Sebelas ... tapi nggak ah ... tetep sepuluh aja :D


Alhamdulillah ... Finally ...

Alhamdulillah...semua terlewati juga. Presentasi di depan lima orang juri yang menyandang gelar profesor riset dan ahli peneliti utama (APU) memang bukan hal yang mudah. Sebenernya yang bikin deg-degan bukan presentasinya, tapi nunggu giliran untuk presentasi. Dapet giliran terakhir jam 14.30, jadinya "stress" karena mesti nunggu seharian. Kirain kalo dapet giliran terakhir orang-orang udah pada males. Eh taunya ruangan malah makin penuh oleh audiens. Juri-juri juga keliatannya masih semangat.Tapi akhirnya semua bisa terlewati. Walaupun agak2 terpojokkan oleh dua orang juri, tapi dibela oleh dua juri lainnya, juri yang satu lagi biasa aja. Namun akhirnya juri-juri dan para "petinggi" di kelompokku rame berdebat sendiri, jadi aku lebih banyak duduk manis, diam, dan mendengarkan di samping moderator. Hahaha...presentasi yang aneh. Hasil penilaiannya sendiri mungkin baru keluar minggu depan. Entahlah bisa lolos atau tidak, namun yang penting i've done my best.

Sekarang, bisa mulai online lagi .... tapi tetep gak bisa sesering dulu, soalnya masih banyak kerjaan lain yang mesti diselesaikan. Entah mengapa taun ini kerjaan lagi numpuk. Padahal tahun kemarin di awal tahun tuh santai banget, bisa menjelajah forum sampe bosen, sekarang sih boro-boro. Tapi semua ada hikmahnya, aku jadi bisa lebih serius belajar lagi. I'll try to love my job.