SYMPHONIA VIENNA : New Years Concert

Sabtu, 17 Januari 2009

Tahun Baru memang sudah 17 hari berlalu, namun konser yang digelar kali ini tetap bertajuk “New Years Concert with SYMPHONIA VIENNA”. Kami berempat menonton konser yang diadakan di Nusa Indah Theater Balai Kartini. FYI, malam sebelumnya orchestra Symphonia Vienna ini menggelar konser di Bali Room Hotel Indonesia Kempinski dengan harga tiket 1,5 juta rupiah. Makanya beruntung banget bisa nonton konsernya yang di Balai Kartini, dengan harga tiket jauh lebih murah (tentunya :D).

Konser dimulai at 8 p.m. dengan conductor Hans-Peter Manser dan dibuka dengan program “Orpheus in Der Unterwelt” Jacques Offenbach (buat yang suka music klasik pasti setidaknya pernah denger deh). Kemudian (menurut program) berturut-turut karyanya R. Huber, J. Strauss (tentu saja), F. Mendelssohn-Bartholdy, A. Dvorak, dan C. Saint Saens.

Pada program “Frühlingsstimmen …” – nya Strauss dibawakan dengan Yoddel Version oleh soprano Christina Zubrügg. Hmmm…entahlah menurutku dan Mbak Ema sih lebih bagus kalo nggak ada Yoddel-nya :P. Kemudian pada program selanjutnya ada penampilan khusus dari Rama Widi (young talented and known as the first male harpist in Indonesia). Eh satu hal, Rama Widi pake bajunya aneh, jas penguin warna merah putih gitu, tapi kok jadi seperti pesulap yaa…(maaf Mas :D, tapi bukan cuma aku kok yang berpendapat gitu, nih yang disini juga).

Setelah 6 program selesai, konser jeda dulu sekitar 25 menit. Kemudian pada bagian kedua konser, para pemain orchestra yang laki-laki memakai ikat kepala khas Bali sedangkan yang perempuan memakai ikat pinggang khas Bali, malah Rama Widi memakai baju adat Bali.

Konser bagian kedua dimulai dengan “Nyanyian Negeriku” Arr. Singgih Sanjaya. Waaaaahhhhhh … kereeennn banget. Lagu-lagu nusantara mulai “Bungong Jeumpa”, “Gundul-Gundul Pacul”, lagu Bali dengan diiringi tarian Bali (dan suara cak cak cak dari para pemain Orchestra), kemudian ditutup “Yamko Rame Yamko”. Wuuuiiiih…Cuma satu program tapi berlangsung sekitar 15 menit. Kereeeeeeennnn… Penonton bersemangat, begitu juga para pemainnya. Tak jarang para pemain orchestra itu sampai menggoyangkan badannya sambil menggesek biola dan cello-nya.

Program diteruskan dengan karya-karya J. Strauss, J. Brahms, P.I. Tchaikovsky, dan ditutup dengan beautiful “An Der Schonen Blauen Donau” J. Strauss, alias the famous “Blue Danube”. Saking kerennnya, pada akhir konser penonton tepuk tangan panjang banget sehingga diberi 3 encore, salah satunya Radetzky March, disini penonton “ikut main orchestra dengan bertepuk tangan”.

Konser berakhir tepat pukul 11 malam dan ditutup dengan "sambutan” dari Mr. Ambassador Austria untuk Indonesia, yang katanya seperti berada di Vienna ketika mendengarkan Orchestra itu. Hehe…yang bener aja Mister, disini kan panas banget, sampe-sampe beberapa pemain orchestra melepas jaketnya tuh saat jeda :P.

Mr. Ambassador Austria sedang memberikan "sambutan"

Waaahhhh…bener-bener pengalaman nonton konser yang tak terlupakan. Kalo menurut ulasan di blog lain, konser itu merupakan “Oleh-oleh dari Vienna untuk Jakarta". Ulasan lainnya tentang konser itu ada juga tuh disini.


Foto-Foto Holiday Travel Bengkulu - Lampung

Kalo mau liat foto-foto lainnya saat di Bengkulu klik disini ya :)

Foto-foto di Lampung bisa dilihat kalau mau klik disana :D

Dua-duanya ada di album foto MP-ku.

Bengkulu



Lampung




Holiday Travel (Part 6) : Lampung – Jakarta … TAMAT

Ahad, 4 Januari 2009

Tidaaaakkkk….akhirnya liburan harus berakhir juga nih :sedih mode on: Yaa…tapi mesti gimana lagi, besok mesti beraktivitas seperti biasa, kembali ke rutinitas.

Pagi-pagi dah siap tuh. Sekitar pukul 9 kami pergi meninggalkan tempat Mbak Esti, berpisah dengan suasana laut yang menyenangkan. Makasih banyak buat Mbak Esti (maaf ya Mbak udah ngerepotin, semoga gak kapok kalo nanti kami datang lagi berkunjung), Eka, Bu Ani, Teh Ela …

Kami bertiga naik ojek menuju jalan raya sejauh 7 km dan menunggu bis untuk ke Bakauheni dari sana. Ternyata bisnya pada penuh apalagi bis AC penuh banget. Akhirnya kami naik bis ekonomi, bisa duduk sih, tapi panas banget karena memang cuaca lagi terik-teriknya tuh. Perjalanan ke Bakauheni dari Kota Dalam sekitar 2 jam. Jalan masuk menuju pelabuhan agak tersendat, macet, mungkin karena itu arus balik setelah liburan panjang juga.

Tiba di Bakauheni kami membeli tiket ferry menuju Merak. Harga tiketnya murah, Rp 10.500, yaa tentu saja kelas ekonomi. Nama kapalnya KM Mentari Nusantara. Sebenarnya agak was-was juga sih naik semua moda transportasi di Indonesia, apalagi angkutan laut, teringat tenggelamnya kapal (apa ya namanya lupa?) dari Sampit menuju Surabaya. (Dan beberapa hari kemarin ada dua kapal tenggelam di sekitar perairan Majene, Sulbar karena kelebihan penumpang dan beratus-ratus penumpang masih dinyatakan hilang, hiks sedih banget).

Ya memang seperti itulah kondisi angkutan laut. Kami para penumpang gak tau tuh apakah kapal itu kelebihan muatan atau tidak, karena kami yakin, jumlah orang gak diitung tuh, gak ada manifest para penumpang, nama kami gak tercatat sebagai penumpang. Jjadi tidak heran kalau beberapa kecelakaan angkutan laut yang terjadi karena kelebihan muatan.

Kami berjalan terus menuju kapal. Wah udah penuh. Saat itu juga ingatan melayang pada buku “Maryamah Karpov” saat si ikal naik kapal dari Tj. Priok ke Belitong. Yaa suasana kapal seperti itu, para penumpang duduk beralas Koran di lorong-lorong kapal. Kami bertiga terus naik menuju dek kapal. Karena saat itu tepat siang hari, suasana sangat panas. Kami gak mau duduk di dalam karena suasana pengap banget. Selain itu, jaga-jaga aja, kalau sampai terjadi hal-hal yang gak diinginkan, jarak kami sangat dekat menuju sekoci. Duuuh segitunya ya, tapi memang harus bersiap untuk segala situasi gak salah kan? Safety first :D

Alhamdulillah setelah perjalanan sekitar dua jam lebih kami akhirnya merapat dengan selamat di Pelabuhan Merak. Alhasil karena kami duduk di dek pada saat panas mentereng, jadinya muka kami langsung gosong  Duuuh item banget.
Dari Merak kami mencari bis menuju terminal Kali Deres dan dari situ lanjut ke Blok M, kemudian dari Blok M tibalah kembali ke tempat asal, bersiap menghadapi rutinitas dan hari-hari baru.

Finally, tamat deh cerita liburan ke Bengkulu dan Lampung.

Next Destination : Kalimantan … a few days to go :)


Holiday Travel (Part 5) : Sunshine in Lampung

Jumat, 2 Januari 2009

Sekitar pukul 6.30 bis jemputan itu datang juga. Iya, karena kami menumpang bis jemputan untuk ke site perusahaan tempat Mbak Esti (Mbak-nya Catur) kerja. Dari Bandar Lampung kami menuju selatan ke arah Kota Dalam, Sidomulyo, sekitar 1,5 jam. Jalanan bagus kok, tapi ketika berbelok ke arah Sidomulyo, jalanan sejauh 7 km ke site perusahaan itu jelek banget. Akhirnya tiba juga disana. Kawasannya benar-benar merupakan area tersendiri, dan disana hanya ada sinyal untuk 2 operator telepon aja. Jadi kalo yang mau berlibur, benar-benar tempat “bersembunyi” yang tepat. Aku ma Catur nginep di Mess-nya Mbak Esti, si Mike di Guest House.

Mess-nya enak banget, karena tepat di depannya ada laut. Begitu kami tiba langsung dijamu satu buah duren tuh, langsung deh disikat. Hmm…setelah bersih-bersih dan beristirahat bentar, kami menyusuri pantai ke arah selatan. Subhanallah, indah banget. Maklumlah, setelah dua hari tanpa sinar matahari rasanya kangen banget. Cuaca cerah, air laut biru jernih, tapi lagi pasang, jadinya gak bisa maen-maen. Kami terus berjalan ke arah utara sampai keluar dari tembok site dan menyusuri kampung nelayan kemudian main-main di pantainya. Pasirnya halus sih tapi banyak karang juga. Tapi subhanallah indah banget. Dan yang penting, pantainya sepi karena memang bukan tempat tujuan wisata.

Wah sudah lewat tengah hari, air makin pasang aja, jadinya kami cepat-cepat kembali ke site. Setelah itu istirahat bentar. Sorenya selain kami bertiga, ditemani Eka, Mbak Esti, dan Bu Ani, menyusuri pantai ke arah selatan. Ternyata itu berupa tanjung. Jadi di kiri-kanan kami terhampur lautan. Well, kami ada di ujung selatan sumatera. Di seberang sana terlihat Gunung Rajabasa di Lampung dan Gunung Krakatau di Selat Sunda. What a beautiful day.

Kami terus menyusuri tanjung itu, mendaki melalui karang-karang lumayan terjal dengan dipandu Bu Ani. Wah Bu Ani hebat, dengan usia lebih dari 50 taun, masih cekatan naik turun karang, padahal curam dan lumayan susah. Mana khawatir lagi kalo kepeleset langsung jatuh ke laut tuh. Tapi Alhamdulillah semuanya lancar.


Kami duduk-duduk di bukit memandang Pantai sambil menikmati suasana sunset yang indah. Wah Mbak Esti enak banget, bisa menikmati suasana seindah ini setiap hari. Kami duduk menikmati suasana langit berwarna-warni, matahai mulai tenggelam, rumput-rumput, angin semilir, sambil menikmati snack yang dibawa Mbak Esti. Namun, karena sudah masuk maghrib petualangan kami akhiri dan kami kembali ke Mess.

Malamnya Bu Ani dan Teh Ela masak rajungan lada hitam. Waaa…Alhamdulillah, enak banget. Wuih makanan berlimpah, sampai-sampai Mbak Esti ngundang temen-temennya yang lain. Setelah itu kami masih pesta durian, hehehe…sekitar 15 buah durian habis lho :D

Sabtu, 3 Januari 2009

Pagi-pagi udah pada ngajak renang aja. Akhirnya kami pun berenang. Asik banget, ombak lumayan tenang, sepi. Pantai tempat kami berenang ada di sisi barat jadinya gak terlihat mentari karena terhalang pepohonan. Jadiiii….airnya dingin bangetsss… brrr… Uh Cuma kuat berenang dan bermain air setengah jam aja, dingiiiiiiiinnnnnn…. Kulit-kulit udah keburu merah, gatal, alergi dingin . Hrrggghh..payah deh, akhirnya kembali ke mess terus mandi. Abis itu istirahat.

Seharian dihabiskan dengan bersepeda sebentar, kemudian membaca karena panas banget kalo mo jalan keluar. Hehehe…dasar manusia dikasih hujan terus ngeluh, dikasih panas juga ngeluh.

Nah ini dia, sorenya kami lagi-lagi ke Pantai. Kali ini berenang lengkap dengan peralatan snorkeling … Horeee…. Dan yang penting, airnya hangat karena disinari matahari dan pemandangannya menjelang sunset wuiiihhhhh….bagus banget.
Pertamanya gak bisa tuh snorkeling, yang ada airnya malah keminum, weks… Tapi setelah beberapa kali mencoba akhirnya bisaaaa…. Menyenangkan, melihat-lihat dasar laut. (halah emangnya sedalam apa coba?? :D). Karena airnya hangat gak ada masalah alergi lagi deh :D

Wuih menyenangkan. Renang, snorkeling, main air … kayanya lupa semua masalah tuh heuheu… Nah baru sore ini puas banget renangnya, sampe gak mau berhenti. Soalnya kalo udah keluar dari air, anginnya kenceng banget jadinya dingin, sedangkan kalo renang malah anget.

Tapi karena udah sore banget tetep donk acara hari itu mesti berakhir. Malemnya Bu Ani dan Teh Ela masak lagi menu special tuh. Udang saus tiram…yummy…. Tapi Catur kasian deh gak bisa makan udang soalnya alergi. Sayang banget Tur, enak lho :P.

Gak terasa, ini hari terakhir kami berlibur, besok mesti kembali ke Jakarta :(


Holiday Travel (Part 4) : Bengkulu – Lampung

Kamis, 1 Januari 2009

Hmm…new year??? Just the day after another. Setelah sarapan yang disiapkan hotel, kami berniat jalan lagi. Eh naik angkot, trus gak sengaja ngelewatin Masjid Jamik Bengkulu, wah bagus banget. Bangunan kuno dengan bentuk atap lancip berlapis tiga (namanya apa ya??). Tapi sayang, gak sempet turun dari angkotnya jadi gak sempet foto masjidnya. Hmmm…abis itu, eh Catur dihubungi Mas sepupunya, ternyata dia dan keluarganya berkunjung ke hotel, jadinya kami bertiga balik ke hotel deh. Kami sempat ngobrol-ngobrol bentar.

Duuuh Bengkulu, hujan belum juga reda. Namun, tidak menyurutkan niat kami untuk tetap jalan-jalan. Hari ini tujuan kami ke Pantai Panjang. Hmm…pantainya bagus, pasirnya halus banget. Bagus banget, terus ada track jogging yang dibuat memanjang, dengan tempat-tempat duduk gitu deh. Sayangnya fasilitas umumnya lainnya masih kurang, seperti toilet yang tidak terpelihara, dan sampah-sampah yang kotor. Oh ya, saat itu gelombangnya lagi tinggi, jadi air lautnya gak biru. Hujan reda, tapi cuaca masih mendung. Menyenangkan bermain-main ombak, ah tapi karena waktu yang kami punya sedikit, jadi Cuma bentar deh main-main di pantainya. Soalnya kami berniat ke Benteng lagi, karena semalam kan begitu jelas liat-liatnya. Sebenernya masih bentah maen di Pantai Panjang. Eh sebelum meninggalkan pantai, kami melihat banyak penjual durian. Uuuhhh…sebenernya tadinya gak niat, tapi karena pas kami balik dari toilet melihat si mike dah makan tuh durian, akhirnya ikutan deh makan durian. Alhamdulillah…enak banget. Mantab juga tuh durian lokal. Kecil-kecil sih duriannya, tapi manis banget.

Pakaian kami masih basah karena bermain-main di Pantai, namun kami tetap menuju Benteng lagi untuk melihat bagian atapnya dan bagian-bagian lain yang belum sempat kami kunjungi malamnya. Wah pemandangannya lebih jelas. Dari atap benteng bisa melihat Pantai Tapak Paderi penuh oleh pedagang-pedangan yang ikut Festival Tabot. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan hampir tengah hari. Kami harus kembali ke hotel karena akan dijemput travel menuju Lampung.
Sampe hotel ternyata travelnya dah nungguin. Hrrrgggh…buru-buru deh mengemas barang-barang. Selamat Tinggal Bengkulu, dari mulai tiba sampai kami pergi lagi cuaca Bengkulu selalu hujan. Gak pernah sedikit pun kami melihat sinar mentari cerah bahkan saat tengah hari.

Perjalanan panjang Bengkulu – Lampung sekitar 17 jam dimulai. Hrrghhh…kok jauhan dari Bengkulu ke Lampung ya dibanding dari Jakarta – Bengkulu? Weeeksssssss…. Siap-siap pegal duduk selama 17 jam di mobil itu. Tapi karena cuaca mendung, dingin, dan kami cape banget, jadinya sepanjang perjalanan sering tidur. Sekitar pukul 4 sore mobil berhenti di Kab. Bengkulu Selatan di kota bernama Manna. Seperti juga kota Bengkulu, di sini sepi banget dan hujan terusss…. Bukan kesan yang bagus bagi kami bertiga yang baru kali pertama berkunjung ke Bengkulu :D

Jalur yang dilalui lumayan bagus dengan kiri-kanan jalan masih hutan dan pantai. Wah pantainya bagus banget, seandainya bisa berhenti :D. Mobil hanya berhenti sebentar (sekitar pukul berapa ya??? Lupa) untuk mengisi bahan bakar. Setelah itu perjalanan kembali dilanjutkan. Aaah mengerikan, jalanan gelap, hutan dengan sesekali diselingi perkampungan. Tapi kondisi jalan lumayan bagus.

Sekitar tengah malam kami berhenti lagi di daerah yang bernama Ngumbar Pesisir Selatan, terdengar suara ombak di kejauhan. Anginnya kenceng banget. Dua jam dari tempat itu, sekitar pukul 1 pagi, jalanan yang dilalui mulai rusak, becek, licin, mengerikan, eh btw, supirnya kuat, gak diganti-ganti tuh sejak tadi karena emang Cuma 1 supir aja. Daripada melihat kondisi jalan yang mengerikan, akhirnya berusaha untuk tidur.

Pukul 5 pagi kami tiba di Bandar Lampung dan turun di perempatan Kayu Balok. Welcome to Lampung. Menunggu bis jemputan karyawan (lho kok??) jam 6.30 sambil makan mie instan yang hangat. Alhamdulillah akhirnya melihat lagi mentari bersinar di Lampung setelah mengalami “kedinginan” di Bengkulu.

Holiday Travel (Part 3) : Bengkulu

Duuuh baru sempet lagi nih nerusin cerita perjalanannya, mudah-mudahan belum basi-basi amat :D

Part 1 disini, Part 2 disini.

Rabu, 31 Desember 2008

At 9 a.m we arrived in Bengkulu. Nunggu beberapa saat di bandara, setelah itu kami berjalan ke luar. Jarak dari bandara ke jalan raya gak jauh, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Saat itu berbekal informasi dari internet, kami akan mengunjungi Rumah Peninggalan Soekarno di Bengkulu. Tapi kesananya pake apa ya?

Eh itu ada pos polisi bandara, jadi kami bertanya pada seorang polisi yang lagi jaga. Emang Cuma ada satu pak polisi itu. Katanya pake angkot putih sampe Panorama trus naik angkot hijau trus naik angkot putih. Ah ribet amat ya. Ya udah deh, yang penting ke luar dulu dari area bandara.

Saat itu cuaca lagi hujan, kami tiba di jalan raya dan melihat tulisan “Selamat Datang di Bengkulu, Kota Semarak”. Heuheu…Semarak apaan? Semarak sama spanduk parpol dan caleg sih iya. Kotanya sepiiiiii banget. Kami jarang liat orang, bahkan kendaraan pun jarang liat. Akhirnya tuh ada angkot putih. Kami naik angkot itu, ternyata cukup jauh juga perjalanan ke Panorama. Sepanjang perjalanan full music deh, dan kami bertiga gak tau lagu apa yang diputer hahaha … Ternyata Panorama itu nama terminal di Bengkulu. Bertanya pada seorang ibu di angkot putih itu, ternyata ke rumah peninggalan Soekarno itu hanya tinggal naik sekali angkot lagi, warna kuning (fyi, angkot di Bengkulu disebut taksi :D. Ciri khas angkot di Bengkulu, hampir di setiap bagian belakang ada speaker gede, dan supirnya seneng muter musik kenceng banget).

Dari Panorama ke Jl. Soekarno ternyata cukup jauh. Hujan semakin deras. Brrr….dingin. Setelah lebih dari setengah jam pake angkot, akhirnya tiba juga di tempat yang dituju. Duuuh hujannya masih deras. Nah itu dia, rumah peninggalan Soekarno di Jl. Seokarno. Rumah itu didiami Soekarno waktu diasingkan ke Bengkulu antara 1938 – 1942.

Arsitekturnya unik. Di teras depan, ada buku tamu untuk setiap pengunjung. Kami bayar Rp 1.000,- per orang. Sayang, bagian teras itu juga dipake orang untuk jualan jadi kesannya agak kumuh. Kenapa gak bikin counter khusus buat jualan ya?
Walopun hari hujan, saat itu juga terdapat beberapa pengunjung sehingga keadaan tidak terlalu sepi. Kami memasuki rumah itu dan melihat-lihat. Ada ruang tamu, ruang perpustakaan, kamar tidur, dan beberapa ruang lainnya. Ruang perpustakaan masih menyimpan beberapa puluh buku peninggalan Soekarno. Kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Namun, kondisi rumah itu sih lumayan terawat walaupun beberapa furniture di dalamnya sudah diganti.

Selesai berkeliling di rumah itu kami keluar. Tujuan selanjutnya adalah Rumah Fatmawati di Jl. Fatmawati. Kami bertanya pada seorang bapak di depan gerbang jalan ke arah sana, karena kami berniat jalan kaki. Eh tanpa disangka-sangka si Bapak itu dengan antusias bercerita tentang perjuangan etc, wah semangat banget deh. Sementara kami udah kedinginan karena saat itu hujan masih deras dan Bapak itu malah terus cerita tanpa ngasi arah yang jelas. Yaa…akhirnya dengan sabar kami menunggu dia selesai cerita. Kemudian setelah selesai kami jalan sesuai dengan keterangan si bapak. Euuu…ternyata malah jalan memutar.
Setelah beberapa lama jalan kaki, jalan nanjak jalan menurun, hujan, haaaaahhhhhhhh…. Dingin, kaki dah basah banget, tapi tuh rumah gak keliatan juga. Akhirnya karena semakin gak nyaman dengan kaki yang basah kami memutuskan naik angkot. Beuuu…ternyata pas naik angkot dah deket. Coba kalo cuaca terang. Ampun deh Bengkulu, dari kami tiba sampe udah keliling beberapa tempat, hujannya gak reda juga.

Nah itu dia, Rumah Fatmawati. Rumahnya bagus. Saat kami tiba, tidak ada pengunjung lain, sepi banget. Hanya ada satu orang penjaga sekaligus guide. Masuk ke rumah itu gak ada tiket khusus, kita boleh bayar sukarela (malah bingung kan mesti bayar berapa?). Di rumah itu ada beberapa peninggalan Fatmawati termasuk baju-baju yang pernah dipakainya.
Ketika kami meninggalkan tempat itu, ada beberapa orang pengunjung yang baru datang.

Dari tempat itu kami kemudian berjalan ke arah Simpang Lima kota Bengkulu. Kebetulan melewati kantor Telkom, jadi kami mampir ke sana dengan maksud membeli kartu Perdana Flexi buat nelpon-nelpon lokal dan meminjam buku telpon, eh taunya malah dikasih. Hujan masih deras, jadi kami memutuskan duduk-duduk dulu disana sambil berteduh dan sedikit nanya-nanya ke orang disana. Katanya sudah seminggu ini orang Bengkulu gak liat matahari alias mendung dan hujan terus-terusan. Wah gawat nih. Tapi memang tidak terlihat tanda-tanda bahwa hujan akan segera reda.

Dari sana, kami lanjutkan perjalanan ke Mega Mall dengan melewati pasar yang becek. Lha ngapain ke Mall? Niatnya mo cari peta Kota Bengkulu, heuheu…payah nih baru mo cari peta, tapi ternyata gak ada, yang ada Cuma peta Propinsi Bengkulu, yaa…sama aja gak terlalu membantu akhirnya kami cari tempat makan. Selesai makan, nelpon2 hotel buat cari penginapan, ternyata tuh hotel pada penuh. Nah lho? Aneh nih, keliatannya sepi banget Bengkulu, tapi begitu nelponin hotel ternyata penuh.
Jadi, dalam keadaan masih hujan deras kami berkeliling mecari hotel, basah dan kedinginan. Huaaa… menyedihkan. Beginilah nasib backpacker setengah hati (kalo kata Catur :D). Sambil berkeliling gitu, kami melihat banyak sekali papan peringatan di setiap penjuru Kota Bengkulu jika terjadi Tsunami.

Hotel di Bengkulu parah. Tarifnya pada mahal dengan kondisi hotel yang menyedihkan. Padahal kalo di Yogya, dengan harga segitu dah dapet penginapan nyaman banget tuh. Uh finally, setelah berkeliling dan nelpon banyak hotel, kami mendapatkan dua hotel. Karena udah pada penuh jadi kami menginap di dua hotel yang berbeda. Aku dan Catur di Hotel Denna sedangkan Mike di Hotel Bumi Endah, keduanya sama-sama di Jl. Fatmawati, hampir bersebrangan. (hiks hotelnya lumayan agak mahal nih, cukup buat setengah bulan bayar kost :D, tapi emang sih kamarnya lumayan nyaman.)

Setelah beristirahat sebentar dan mandi air hangat (untung di hotelnya ada fasilitas air hangat), malamnya kami jalan ke daerah Benteng, Pantai Tapak Paderi, tempat diadakannya Festival Tabot. Hmm…itu festival yang selalu digelar setiap tanggal 1-10 Muharam setiap tahunnya di Bengkulu. Hujan masih aja deras, tapi nampaknya tidak mengganggu penduduk Kota Bengkulu untuk keluar tuh.

Kami bertiga naik ke Fort Marlborough (Benteng yang dibangun tahun 1714-1719), hmm…karena dah malam jadinya dikunci. Eh, tapi bentar tuh ada seorang Bapak masuk ke Benteng itu. Kami mengikuti dan akhirnya kami diperbolehkan masuk. Cihuuuyyy…ternyata di dalam ada dua orang penjaga, dan panitia yang akan menyiapkan pesta kembang api. Jadinya kami hanya boleh liat-liat benteng sebelah kiri dan tidak boleh naik ke atas Benteng. Ah, it’s OK lah. Heuuu…seperti Night at the museum. Serem sih, tapi menyenangkan. Hujan deras, berangin, Cuma kami bertiga dan dua orang penjaga yang ada di bawah, haaa…mencekam banget. Tapi tetep, urusan narsis nomor satu, weks…parah! Setelah merasa cukup mengunjungi benteng malam itu, dan karena kedinginan, kami memutuskan keluar dan cari makan. Aaahh…di pasarnya gak ada makanan khas Bengkulu, adanya malah Sate Padang dan Soto apa ya? Tapi unik juga kok sotonya. Sudah lewat jam 10 malam, kami memutuskan balik ke hotel. Hmm…menghabiskan malam taun baru dengan tidur nyenyak karena kedinginan dan kecapean.


Selamat Tinggal Facebook

Pengumuman nih, buat teman-teman semua, saya sudah tidak aktif lagi di Facebook alias sudah men-delete (de-active) account saya di Facebook. Tanya kenapa??? Saya yakin temen-temen udah tau semua, yaaa...setidaknya ini langkah nyata walaupun SANGAT SANGAT SANGAT KECIL.

Tentang facebook bisa dibaca disini.

Profil si empunya facebook kek gini nih, read more here. Jadi, selamat tinggal Facebook.

Baca komentar temen-temen lainnya di-mp-ku.

Song For Gaza

Baru aja baca artikel di eramuslim, judulnya "Cara Artis Barat Membela Gaza"
Oh ya kalo yang di Indonesia bisa melakukan banyak cara, selain berdoa tentu saja, kalo mau donasi, bisa melalui MERC atau KNRP atau mungkin lembaga-lembaga lainnya.
Yang paling mudah tentu saja melalui sms, ketik MERC (spasi) PEDULI kirim ke 7505.

Ayoooo.....jangan diam saja!!!! Tapi saya yakin, teman-teman semua insyaAllah sudah berbuat lebih dari itu ya :)



kalo mau download lagu atau dengerin lagunya bisa klik disini.


WE WILL NOT GO DOWN
(Song for Gaza)

(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009


A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight





Thanks To You

Ahad, 11 Januari 2009

Hari ini, seorang sahabat menunjukkan sms yang diterimanya beberapa hari yang lalu, isinya seperti ini:

Saat Allah menjawab doamu, Ia meminta imanmu
Saat Allah menunda doamu, Ia meminta kesabaranmu
Dan disaat Allah menjawab doa tapi bukan doamu, Ia memilihkan yang terbaik untukmu
Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang yang beriman, sabar, dan taqwa

Amiin...

Jazakillah Bitah. Thanks for sharing. Makasih buat nasihat, masukan, dan beberapa pelajaran berharga yang sering kamu bagi dengan Lies. Semua itu sangat berarti. I love you sista, uhibbuki fillah. Thanks for this great day. Alhamdulillah.

Hatur nuhun oge kasadayana sobat-sobat DFRB nu dinten ieu kempel, aya Bitah, Teh Eci (padahal nuju riweuh nembe beres hajat nya Teh :D), Dyah, Kang Dida, Kang Kuya, Kang Hadi, sareng Kang Ugun. Heuheu...dinten ieu teh mung sakedap kempelna dibandingkeun biasana, tapi bener-bener ngabambrangkeun hate simkuring :D. Hatur nuhun pisan kasadayana. Meni nyaah pisan abdi mah kasadayana di komunitas ieu :).

This is a song for all of you. Just click here.

Holiday Travel (Part 2) : Jakarta - Bengkulu

Rabu, 31 Desember 2008, 5 a.m – 9 a.m

At 5 a.m. kami sudah siap-siap di kost hendak pergi ke airport. Naik metromini 69 kami menuju Blok M. Tiba di Blok M, beli minum dulu deh sebelum naik bis. Eh taunya ketika beli minum itu, ada seorang supir taksi yang nyamperin kami bertiga, menawarkan untuk naik taksinya, gak pake argo, tapi langsung aja diitung per orang 20 ribu, sama dengan ongkos bis. Trus sesuai kesepakatan, semua tol dia yang bayar. Ya udah, lumayan kan, daripada mesti naik bis karena masih ngetem juga tuh bis. Eh tanya punya tanya, ternyata tuh Pak Amri Ali sang supir taksi mesti jemput seseorang di Bandara sekitar jam 6.30 atau jam 7, nah daripada dia rugi gak angkut penumpang, mending dia nawarin kami naik taksinya dengan ongkos sama dengan ongkos bis. Karena kami naik taksi dan saat itu masih pagi, jalanan masih lowong, jam 6.15 kami sudah tiba di airport, terminal 1C. Ya masih lama deh.


Kami langsung menuju counternya Mandala buat ambil tiket. Abis itu selesai, kami sarapan dulu. Setelah itu baru deh check in. Trus nunggu sampe jam 7.55.


Hokeh…hokeh…sudah dipanggil. Kami bertiga duduk di bagian belakang pesawat Airbus A319 itu. Hmm.. perjalanan diperkirakan memakan waktu 50 menit, jadi sekitar 8.45 kami sudah akan tiba di Bengkulu. Yaa … begitulah, ada beberapa kejadian konyol dan memalukan di pesawat hahaha…


Gak terasa, sambil membaca dan kadang tertidur, pilot sudah memberitahukan bahwa sebentar lagi tiba. Eh taunya, pilot ngasi tau lagi, bahwa cuaca buruk karena hujan deras dan jarak pandang hanya 1 km, jadi kami untuk sementara akan “berputar-putar di udara” sampe cuaca memungkinkan bagi pesawat untuk mendarat. Haaa….terdengar pekikan kecil dari penumpang di sebrang kursi sana. Duuuh ada yang panik tuh. Rasanya lama banget “berputar-putar” dan melihat keluar hanya gumpalan awan gelap yang terlihat. Akhirnya setelah 15 menit, sekitar pukul 9 pagi pesawat mendarat di Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu. Fuih…Alhamdulillah…lega deh.


Bandara itu kecil banget, mirip kantor kecamatan, ujar seorang ibu penumpang lainnya. Iya, emang kecil sih bandaranya dan sepi. Bahkan menurutku lebih rame stasiun Bandung dibanding bandara itu. Welcome to Bengkulu … emang ada apa di Bengkulu???









Holiday Travel (Part 1) : Asal Usul

Selasa, 30 Desember 2008

Hmm…hari terjepit nih. Setelah liburan lima hari, kami harus kembali masuk kantor. Tapi semangat… karena ingin cepat-cepat berlibur, sehingga saat itu aku menyelesaikan laporan dengan cepat. Sebelum istirahat siang, laporan sudah selesai (walaupun setelah diperiksa, ternyata ada beberapa bagian yang masih harus diperbaiki) …wah senangnya, berarti besok bisa gak ngantor donk hehehe…


Ya udah deh, hari itu pulang ke kost seperti biasa. Malamnya kami bertiga makan di warung nasi goreng dekat kost sambil diskusi buat rencana liburan. Rencananya kami akan ke Lampung, tapi masih simpang siur, pergi besok atau pas malam taun baru. Akhirnya rencana disusun dengan rute Jakarta – Lampung lewat Merak, trus di Lampung nginep satu atau dua hari, kemudian perjalanan dilanjutkan ke Bengkulu. Saat itu, kami sampe nelpon-nelpon travel di Lampung untuk keberangkatan ke Bengkulu. Lho kok jadi ke Bengkulu ya???

Tiba-tiba Mike punya ide lain, katanya pake pesawat aja deh, Lion lagi murah ke Bengkulu. Apaa??? Aku ma Catur serentak kaget … dasar gila. Ngubah-ngubah lagi rencana. So, diskusi dilanjut di kost sambil internetan buat cari tiket pesawat. Eh internet malah ngadat, jadinya telpon sana-sini deh ke Call Center beberapa Airlines. Taunya kami mendapat tiket Mandala (lebih murah 100 ribu dibanding Lion) untuk keberangkatan esok hari 7.55 a.m. menuju Bengkulu. Wah langsung deh, saat itu ke ATM buat transfer biaya tiket padahal saat itu sudah hampir jam 10 malam.

Setelah beres, baru ngeh, belum packing, belum apa-apa. Haah..payah nih.Begini nih kalo semuanya serba ngedadak, tanpa rencana matang. Makanya kalo asal jangan usul, kalo usul jangan asal. Hehehe...tapi tetep donk can't hardly wait for the journey.

Beli Buku Online

Sebut aku ketinggalan jaman ato apapun terserah lah, tapi emang selama ini belum pernah beli buku online. Belanja di internet??? Hmmm...gak pernah. Paling cuma beli tiket aja. Kalo beli barang gak pernah.

Nah suatu saat, sebetulnya sering sih, liat-liat web yang jual buku online, tapi gak pernah tertarik untuk beli. Aku tetap menganggap kalo beli buku langsung ke toko buku atau ke pameran lebih menarik. Tapi entah kenapa, hari itu rasanya ingin sekali mencoba beli. Akhirnya aku memilih 4 buah buku untuk dibeli.

Setelah itu dikirim e-mail konfirmasi, aku bales e-mailnya. Dan udah, abis itu tinggal nunggu bukunya di kantor (karena alamat pengiriman pake alamat kantor). Gak seperti beli tiket yang mesti transfer via ATM (karena aku gak punya kartu kredit :D), trus nanti bukti transfernya harus difax ato discan dan dikirim via email, nah beli buku ini aku gak mesti melakukan itu semua. Begitu seorang kurir mengantarkan bukunya, langsung deh bayar di tempat hehehe... enak banget kan??

Dan karena beli bukunya lebih dari 100 ribu, bebas ongkos kirim deh.


The Jungle : Here We Come ...

Ahad, 28 Desember 2008

Aku dan keluargaku pergi dari Bandung pukul 6 pagi menuju Bogor. Tujuan pertama adalah rumah kakakku di Bogor, kemudian menunggu datangnya keluarga kakakku yang dari Ciputat.

kumpul di rumah Kakak di Bogor, masih menunggu Kakak yang dari Ciputat





Setelah berkumpul semua, dari rumah kakak, kami pergi menuju ke The Jungle tempat rekreasi wahana air di Bogor Nirwana Residence...tempatnya sih biasa aja. Tapi karena lagi liburan...wah ampun deh, pengunjungnya banyak banget. Penuh...






Aa Syamil baru disunat lho seminggu sebelumnya, Ahad, 21 Desember 2008


Dari The Jungle, kami menuju ke Kebun Durian, Warso Farm, di Bogor Selatan. Wah sayang duriannya belum banyak yang matang, jadinya gak makan durian deh.









Selesai keliling kebun durian, kami kembali ke rumah kakak dan seterusnya makan malam di Jl. Pajajaran Bogor, sebelum akhirnya kembali ke Bandung.