Ramadhan

Tidak terasa, seminggu kedepan, Ramadhan akan datang… Marhaban ya Ramadhan…

Semoga ramadhan taun ini akan lebih baik dari taun-taun sebelumnya…Amiiin

Ini ada lirik nasyid “Ramadhan” dari Izzatul Islam, yang mau mp3-nya, kirim e-mail aja ya.

RAMADHAN

Tlah datang menjelang…
Meluruhkan kerinduan…
Ooo…Ramadhan…Sambut kehadapan…

Bulan perjuangan tingkatkan iman
Pupuk pengorbanan suci
Bina kesungguhan bina keikhlasan
Berbekal taqwa untuk kehidupan ramadhan

Jadikan bulan suci cermin hati, benahi hidup tuk Ilahi
Lepas blenggu dunia tuju ukhrawi
Sibak cakrawala imani, luas membentang tak terhalang

Bulan suci cerminkan hati cerlang
Arungi hidup masa datang
Rahmat ampunan cahaya abadi
Raih kebebasan hakiki, dari perih azab kekekalan

Kesabaran diraih penuh pengorbanan
Nafsu tunduk patuh terkendali
Keridhoan bukanlah suatu kemudahan
Capai gelaran kehormatan
Ambang Ar-Rayan dihadapan

Bulan perjuangan tingkatkan iman
Pupuk pengorbanan suci
Bina kesungguhan bina keikhlasan
Berbekal taqwa untuk kehidupan ramadhan

Hindarkan kesiaan kata dan perbuatan
Tinggikan hari dengan kesibukan rabbani
Janganlah sampai keluar dengan tangan hampa
Tiada hasil kecuali lapar dahaga

Ingatkan diri Sang Jungjunan di bulan rahmah
Tegakkan malam bertabur dzikir dan tilawah
Cerah hari bercahayakan
Indah menyinar ketaqwaan

Bulan perjuangan tingkatkan iman
Pupuk pengorbanan suci
Bina kesungguhan bina keikhlasan
Berbekal taqwa untuk kehidupan ramadhan


Dumb...Am I?

Gara-gara Kang Cantel, hari ini diriku ikutan quiz, dumb-test... dan hasilnya wakakak... I AM 44% DUMB!!! Payah ah... soalna pan kuisna bahasa inggris jadi lieur teu ngarti (wah ieu mah alesan sajah!!!).

Dumb Test
Dumb Test by QuizRocket.com!
Quiz of the Week | More Quizzes! | Facebook Quizzes

DFRB : Tina Dunia Maya Jadi Baraya

Ini foto-foto waktu Family Gathering DFRB. Teu nyangka pisan, tina dunia maya bisa jadi baraya. Asa geus kenal lila, padahal mah ngan kenal via internet hungkul. Tapi pas pertama papendak ge langsung rame, bener-bener jiga baraya. Dua foto ieu sabenerna foto-foto gathering nu tos ka sakian kalina. Duuuh nyaah pisan ka sadayana baraya di DFRB.


Family Gathering di Villa, Kawasan Dago Bandung, 9-10 Agustus 2008.

Enjing-enjing ngantosan sarapan sangu goreng.


Tah teras basa gathering di BonRay mah rame pisan, seueur barudak, malah aya dua urang ibu mertua ge ngiringan :D. Mantab pisan lah.

Family Gathering di Kebun Raya Bogor, 18 Agustus 2008, sakantenan ngarayakeun ulang taun lima urang anggota DFRB.


Tah ieu nu ultah teh, ti kenca ka katuhu: kang FIM, kang Asgar, neng Bitah, kang Tresna, kang Hadi.

The girls kiri ke kanan: Teh Yuli, Neng Lies, Neng Bitah, Neng Prita

Violin Recital

Sabtu, 16 Agustus 2008. Another weekend di Jakarta. Banyak sekali kegiatan di seluruh Jakarta terutama menjelang peringatan HUT RI keesokan harinya. Sore itu bada Ashar, aku dan teman mengunjungi “Festival Kejomoo” di Plaza Selatan Gelora Bung Karno. Wah, baru dateng aja udah mupeng dengan semua makanan yang ada (Lho, ini kok judulnya “Violin Recital” tp malah cerita tentang Keju hehehe…). Akhirnya kami berdua membeli pancake…hmmm…yummy. Setelah muter-muter di area Plaza Selatan, kami menuju fx, penasaran aja pengen liat mall baru sekalian mau numpang shalat maghrib di mushala-nya. Tak lama kemudian datang temanku yang lain. Kami bertiga berencana menonton Violin Recital di Erasmus Huis. Sebenernya acaranya dimulai pukul 19.30, namun sesuai dengan anjuran pada saat reserved ticket via telepon, kami sebaiknya datang sebelum pukul 19.00, so 15 menit sebelum pukul 19.00 kami sudah tiba di Erasmus Huis.

Acara Violin Recitalnya terlambat sekitar 15 menit. Acara ini diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Recital kali ini mempersembahkan dua orang musisi yaitu Gabriel Ng (violin) yang baru berusia 13 tahun dan Inge Buniardi (Piano). Ada enam program yang ditampilkan saat recital kemarin, yaitu:

  • Cantabile - N. Paganini
  • La Campenella, Op. 7 - N. Paganini
  • Meditation - P.I. Tchaikovsky
  • Scherzo - P.I. Tchaikovsky

Pada program keempat tersebut senar biola-nya Gabriel sempet putus lho saking semangatnya dia main.

  • Carmen Fantasy, Op. 25 - Pablo de Sarasate
  • Elegiaque Poeme - Eugene Ysaye
  • Sonata for Violin and Piano in A - Cesar Franck

Wuuihhhhhh….top banget deh….dengan usia yang baru 13 tahun permainannya Gabriel Ng hebat banget (menurut diriku yang orang awam). Sampe-sampe pas akhir Recital tepuk tangan penonton panjang banget, jadinya dikasi deh dua program tambahan. Pertama, Gabriel Ng main solo (kereeeeeeeen banget), yang kedua mengulang lagi memainkan program keempat. :clap:

Berikut ini sekilas biography kedua musisi tersebut (sumber diperoleh dari DKJ).

GABRIEL NG (Violin)

Gabriel Ng is 13 years old and presently studying in The Yehudi Menuhin School in the United Kingdom under the tutelage of Mrs Natasha Boyarsky. He has participated in Master classes with Zakhar Bron, Lewis Kaplan and Zvi Zeitlin.

Before leaving Singapore in 2005, he had been learning the violin from Ms Yah Wan Har at the Nanyang Academy of Fine Arts since the age of four.

In the 2003 Singapore National Piano and Violin competition, he was awarded the first prize in the Junior Violin category. In May 2007, at the XIV Andrea Postacchini International Violin Competition in Italy, Gabriel was a first prize winner (intermediate category) and was also awarded the Grand Prize, as overall winner of the competition which attracted almost a hundred competitors from all over the world.

Gabriel was the 2006 HSBC Youth Excellence Award Recipient for Musical Excellence and made his debut concert the following year at the Singapore Esplanade concert hall. Besides Singapore, Gabriel has performed in public concerts in London, Tokyo, Edinburgh, Cardiff and Rome. In December 2007, he gave his first European solo recital in Rome and has been invited back for a second performance later this year.

ini fotonya Gabriel Ng, tp bukan dari Recital kemarin, ini dapet dari Web-nya

www.gabrielng.net


INGE BUNIARDI (Piano)

Is a young pianist, was born in Jakarta 1986. She started her piano lessons at age of four with Mary K. Kurniawan, Ten Sien Jong, Julina, and Iswargia R. Soedarno. Currently she enrolled as a fourth year student of Sweelinck Conservatory in Amsterdam, studying piano under Prof. Mila Baslawskaja, singing under Elise Galama, and studied composition under Dutch composer Daan Manneke.

From 1994 until 2000, she was registered as a member of Junior Original Concert of Yamaha Indonesia, in which it trained talented young musicians in composition field. When she was twelve years old, she was selected to represent Indonesia in the 100 years of Phillipines’ Independence Day Celebration in Manila, where she performed her own composition.
Inge has shown her talent from an early age. She has won several piano competitions in Indonesia since she was seven.
In 1994, she was selected to join “New Names” Summer Camp Program in Rusia.

In 2003, she gave her concerto debut with National Youth Orchestra Indonesia under the baton of Prof. Raimund See from Germany.
In 2004, she won First prize Piano Competition upon National High School held by Universitas Pelita Harapan. In the same year, she also received scholarship to join Viana do Castelo Music Festival 2004 at Portugal. August 2007, she performed in JcoM Fest.

She recorded four-hands works by Mozart together with Iawargia R. Soedarno.
Inge follows masterclasses from Ronald Farren-Price, Michael Leuschner, Martijn van den Hoek, Vladimir Viardo, Jan Wijn and Mikhail Voskresensky.

Inge gave piano recitals and concert in Indonesia, Germany, and in the Netherlands regularly.


Harta Karun VOC di Pulau Onrust?

3 Agustus 2008. Minggu pagi itu sekitar pukul 5.30 aku sudah bersiap pergi ke Museum Sejarah di Kota atau jaman dahulu dikenal dengan Stadhuis untuk mengikuti Plesiran Tempoe Doeloe (PTD) yang diselenggarakan oleh Komunitas Sahabat Museum (BatMus), kali ini bertema “Plesiran Tempo Doeloe : Harta Karun VOC di Pulau Onrust?” Rasanya sayang sekali untuk melewatkannya. Sekitar pukul 7 pagi saya sudah sampai di Kota dan melihat antrean panjang para peserta daftar ulang mendapatkan nametag dan snack pagi. Jumlah peserta sepertinya mencapai 300 orang. Narasumber untuk PTD kali ini ada tiga orang yaitu Bapak Dr. Lilie Suratminto (Dosen Sastra Belanda UI), Bapak Alwi Shahab (wartawan senior dan ahli sejarah Jakarta juga), serta E.S. Ito (penulis buku Rahasia Meede).

Ups, saat antri untuk ambil nametag, aku melihat Bapak Alwi Shahab sedang duduk. Wah rasanya tidak sabar meminta tandatangan beliau untuk buku-buku yang aku punya. Setelah itu, ada seseorang yang dikelilingi orang-orang dengan membawa buku Rahasia Meede. Akhirnya aku menyimpulkan kalo orang itu adalah E.S. Ito, dan ternyata benar. Wah, dapat juga deh tandatangan untuk bukunya. Setelah semua peserta melakukan daftar ulang, kami masuk ke halaman belakang Stadhuis melalui pintu samping. Eh itu dia Bapak Alwi Shahab. Akhrinya aku menghampirinya dan mengeluarkan 4 buku yang aku punya untuk ditandatangani beliau. Waah senangnya.

pagi hari antri ambil nametag peserta di halaman Stadhuis (Museum Sejarah Jakarta)


Wuih ternyata pesertanya banyak banget ya :)

Berburu tandatangan E.S. Ito, penulis buku Rahasia Meede

Minta tandatangan untuk buku-bukunya Pak Alwi Shahab.

Acara mulai dibuka di halaman belakang Museum Sejarah. Walaupun aku sebelumnya pernah mengunjungi Museum Sejarah, tapi tetap tidak bosan mendengarkan paparan sejarah yang dikemukakan oleh tiga orang narasumber yang ada. Saat itu ketiga orang narasumber membahas mengenai Pieter Erberveld. Kemudian Pak Lilie menerangkan mengenai tulisan yang terdapat pada monumen Pieter Erberveld yang tersisa dan saat ini ada di salah satu tembok di halaman belakang Museum Sejarah.

Keluar dari Museum Sejarah, kami kembali ke pelataran Stadhuis untuk menuju ke Gedung Dasaad Musin Concern. Pak Alwi Shahab kemudian menjadi narasumber untuk membahas mengenai Gedung Dasaad Musin Concern. Gedung ini terletak di depan Museum Sejarah dan di bagian depannya terhampar Stadhuisplein (Taman Fatahillah). Di samping kiri gedung tersebut terletak Kantor Pos Jakarta Kota, dan bagian kanannya terdapat Kafe Batavia. Tulisan Dasaad Musin Concern terlihat samar pada tembok sebelah kiri dengan huruf kapital. Gedung ini dulunya dimiliki oleh Agus Musin Dasaad, seorang pengusaha Minangkabau kelahiran Filipina. Sekarang, Gedung tersebut merupakan gedung tiga lantai yang tidak terawat dan tidak masuk dalam hitungan cagar budaya. Dengan kondisi menyedihkan tersebut, saat ini hanya satu lantai Gedung ini yang masih berfungsi dan digunakan untuk arena biliar seperti yang terpampang di pintu masuknya.

Gedung Dasaad Musin Concern

Waktu hampir menunjukkan pukul 10 pagi ketika kami meninggalkan Gedung Dasaad Musin Concern untuk kemudian menuju bis yang telah ditentukan dan perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Muara Kamal dengan dipimpin oleh seorang Kapiten. Perjalanan dari Kota ke Muara Kamal pagi itu dilalui dengan lancar tanpa kemacetan. Di Pelabuhan, kami antri memasuki perahu, dan melanjutkan perjalanan sambil menikmati roti buaya untuk menuju Pulau Onrust yang terletak di Teluk Jakarta (sekitar 14 km dari Pantai Jakarta). Setelah menghabiskan sekitar 30 menit di perahu motor, akhirnya kami berlabuh di Pulau Onrust.

Antri menuju perahu di Muara Kamal

Menuju Pulau Onrust, hmmm...dibagi roti buaya...

Tiba di Pulau Onrust sudah hampir waktu makan siang. Hmmm…makan siangnya ikan bakar. Setelah makan siang, E.S. Ito menjelaskan mengenai novel Rahasia Meede, termasuk sumur yang mengilhaminya sebagai tempat harta karun VOC di Pulau Onrust pada novel tersebut.

Hmm...ikan bakar, makan siang di Pulau Onrust

Setelah itu rombongan dibagi dua dengan mengikuti salah satu narasumber yaitu Pak Lilie dan Pak Alwi. Saat itu aku mengikuti rombongan Pak Lilie untuk mengelilingi Pulau Onrust. Pulau Onrust (bahasa Belanda) dalam bahasa Ingris adalah Unrest artinya “tidak pernah diam”, “tidak tenang”, karena di Pulau ini pada masa VOC mejadi tempat perbaikan kapal dan tempat berlabuhnya kapal-kapal kompeni dari berbagai penjuru Asia dan Afrika, dan juga dari Eropa. Oleh karena itu, pulau ini juga disebut tempat Rendezvous berbagai Kapal Kompeni.

Inikah sumur yang mengilhami harta karun di Pulau Onrust dalam bukunya E.S. Ito "Rahasia Meede?

Saat ini yang tersisa di Pulau Onrust hanyalah reruntuhan bangunan-bangunan jaman dulu, dua buah museum, bangunan bekas rumah dokter, dan warung-warung penjual makanan. Kemudian kami menuju ke pantai sebelah barat laut pulau ini yang hingga kini masih tersisa pemakaman Belanda. Di situ ada makam Maria van de Velde, istri penguasa Pulau Onsrust pada Abad 16 Bastiaan Duran yang meninggal dalam usia 28 tahun. Kabarnya Maria yang cantik ini masih sering menampakkan diri di pulau ini pada malam-malam tertentu. Pada batu nisannya terdapat tulisan dalam bahasa Belanda, yang menurut Pak Lilie jika diterjemahkan kurang lebih seperti ini.

Jenazah Maria Van de Velde
Dimakamkan di sini
Yang patut masih dapat hidup
Bertahun-tahun
Seandainya Tuhan berkehendak
Tetapi ternyata, Jehova (Tuhan)
Telah menghalangi dia dengan kematian
Maria telah pergi,
Maria telah tiada!
Tetapi, tidak! Saya tarik kembali kata itu.
Sebagai yang diucapkan tanpa berpikir
Dan itu dapatlah
Karena ketergesa-gesaanku,
langsung dihukum!
Sekarang baru Maria hidup.
Sekarang ia hidup dengan Tuhannya
Lahir di Amsterdam
Pada anggal 29 Desember 1693
Wafat pada tanggal 19 November
Di Pulau Onrust tahun 1721

Nisan makam Maria Van de Velde di Pulau Onrust

Setelah berkeliling Pulau Onrust, kami pun melanjutkan perjalanan dengan perahu motor menuju Pulau Kelor. Namun sayang, kami tidak berlabuh di Pulau Kelor karena tidak memungkinkan. Namun masih jelas terlihat reruntuhan benteng yang terdapat di Pulau Kelor. Konon dahulu di Pualu tersebt ada rumah tinggal salah seorang mantan Kepala Pulau Onrust. Rumah ini tenggalem karena abrasi laut.

Pulau Kelor yang indah, tapi sayang kami tidak berlabuh di sana

Dari Pulau Kelor, perahu langsung memutar menuju Pulau Bidadari. Sesuai dengan namanya, Pulau ini cantik sekali dengan hamparan pasir putih. Bahkan saat kami mengunjungi Pulau Bidadari, terdapat orang yang sedang melakukan foto Pre-Wedding. Padahal zaman dahulu Pulau ini bernama Pulau Purmerend atau Pulau Sakit karena sejak 1679 digunakan sebagai tempat penampungan orang sakit. Di Pulau Bidadari ini terdapat reruntuhan Benteng Martello Tower.

Benteng Menara Mortello di Pulau Bidadari

Setelah berkeliling Pulau Bidadari, perjalanan dilanjutkan menuju rangkaian pulau terakhir, yaitu Pulau Cipir yang sebenarnya terletak di depan Pulau Onrust. Saat ini di Pulau Cipir hanya tersisa reruntuhan bekas rumah sakit, gereja, dan reruntuhan tempat karantina haji.

Menuju Pulau Cipir

Reruntuhan di Pulau Cipir

"Prasasti" di Pulau Cipir

Tidak terasa, hari telah menunjukkan pukul 5 sore ketika kami meninggalkan Pulau Cipir. Air laut sore itu terlihat sudah mulai pasang. Kami pun kembali menaiki perahu motor yang akan membawa kami kembali ke Pelabuhan Muara Kamal dan kemudian dengan menggunakan bis kembali ke Museum Sejarah di Kota. Sekitar pukul 18.30 semua rombongan tiba kembali di Kota, dan berakhir pulalah PTD hari itu. Hmmm…what a great experience!

Sumber:

  1. Ito, E.S. 2008. Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC. Bandung : Hikmah Mizan.
  2. Shahab, A. 2004. Betawi: Queen of the East. Jakarta : Republika.
  3. Shahab, A. 2002. Robin Hood Betawi. Jakarta : Republika.
  4. Tulisan Dr. Lilie Suratminto pada lembaran yang dibagikan untuk peserta, Plesiran Tempo Doeloe: Harta Karun VOC di Pulau Onrust?

Pulau Onrust

Pulau Onrust (bahasa Belanda) dalam bahasa Ingris adalah Unrest artinya “tidak pernah diam”, “tidak tenang”, karena di Pulau ini pada masa VOC mejadi tempat perbaikan kapal dan tempat berlabuhnya kapal-kapal kompeni dari berbagai penjuru Asia dan Afrika, dan juga dari Eropa. Oleh karena itu, pulau ini juga disebut tempat Rendezvous berbagai Kapal Kompeni.

Pulau Onrust semula disewa oleh VOC dari Pangeran Jayawikarta pada tahun 1610 dan justru akhirnya dipergunakan sebagai tempat konsentrasi armada-armada perangnya untuk menaklukan Jayakarta (Mei 1619). Dengan demikian, dari pulau inilah awal penjajahan Belanda selama 3,5 abad dimulai. Onrust pernah mencapai prestasi gemilang saat menjadi galangan kapal. Kapten James Cook saat perjalanannya menemukan Australia dan New Zealand pada Abad 18 pernah singgah di Pulau Onrust untuk memperbaiki kapalnya Endevour yang rusak berat. Demikian juga Albert Tasman, seorang pedagang di Batavia, dalam memimpin ekspedisi menuju Benua Australia bagian selatan dan pulau Tasmania, armadanya berangkat dari Pulau Onrust. Selain sebagai tempat galangan kapal, di Onrust juga kompeni menguasai perdagangan dari Tanjung Harapan di Afrika, Pulau Deshima (Hirado) dekat Nagasaki Jepang, sampai Tanjung Hoorn di Selat Magelhaen di Amerika Selatan.

Pada 1800 Inggris melakukan blokade terhadap Batavia. Saat itu, Inggris terlebih dahulu merebut Onrust, untuk kemudian menyerang Batavia. Seluruh kapal Kompeni diblokade sehingga hubungan VOC dengan Amsterdam putus. Ini adalah salah satu factor mengapa VOC jatuh dan akhirnya gulung tikar.

Setelah kepergian Inggris, pulau ini menjadi markas angkatan laut Hindia-Belanda. Pada 1883 tsunami yang terjadi akibat letusan Gunung Krakatau menghancurleburkan pulau ini. Kemudian selama 22 tahun, antara kurun waktu 1911-1933 Onrust dan Pulau Cipir (Pulau Kayangan) menjadi tempat karantina haji. Jika ada yang membawa bibit penyakit menular, para jemaah itu dikarantina di Pulau Cipir. Selain itu ada juga Pulau Sakit atau Pulau Purmerend karena pulau ini sejak 1679 dipakai sebagai tempat penampungan orang sakit (kini Pulau Bidadari).

Onrust juga pernah menjadi pulau yang menakutkan saat pemerintah Kolonial menjadikannya tempat tahanan para nasionalis yang tidak jemu mengusik Belanda, termasuk makam para tawanan yang terlibat dalam pemeberontakan “Peristiwa Tujuh Kapal” (Zeven Provincien) menjelang Perang Dunia II . Pada 1940, orang-orang Jerman yang dituduh terlibat gerakan Nazi pro-Hitler pun dipenjarakan di sini. Begitu pula pada jaman pendudukan Jepang, Onrust menjadi penjara bagi para penjahat kelas kakap. Pada tahun 1964, eksekusi hukuman mati terhadap S.M. Kartosuwiryo, tokoh DI/TII di Jawa Barat pun dilakukan di Pulau Onrust.

Setelah masa G.30.S, bangunan-bangunan di Pulau Onrust dan pulau-pulau sekitarnya habis dijarah sehingga tinggal puing-puingnya saja. Kini oleh pemerintah DKI Jakarta, Pulau Onrust ditetapkan sebagai pulau bersejarah dan dilindungi di bawah Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jaya.


sisa-sisa reruntuhan di Pulau Onrust (03-08-08)


Sumber:

  1. Ito, E.S. 2008. Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC. Bandung : Hikmah Mizan.
  2. Shahab, A. 2002. Robin Hood Betawi. Jakarta : Republika.
  3. Tulisan Dr. Lilie Suratminto pada lembaran yang dibagikan untuk peserta, Plesiran Tempo Doeloe: Harta Karun VOC di Pulau Onrust?



Kampung Pecah Kulit

Pieter Erberveld, seorang burgerij, warga keturunan Eropa (ayah Jerman-Belanda dan ibu kulit cokelat, ada yang menyebut dari Jawa namun ada yang menyebut juga ibunya turunan Siam). Ayah dari Pieter Erberveld memang berasal dari Jerman. Tepatnya berasal dari Kota Erberfeld, terletak di barat Jerman. Pada tahun 1929, kota kecil itu bersama dengan lima kota lainnya: Barmen, Cronenberg, Ronsdorf, Vohwinkel, dan Beyebburg bergabung membentuk Kota Wuppertal.

Erberveld merupakan seorang tuan tanah di daerah Jacatraweg (kawasan elit zaman dulu di sekitar Gereja Sion) sekitar 1 km dari Stasiun Jakarta Kota (saat ini nama tempat itu kira-kira di daerah Kelurahan Pinangsia, Jakarta Pusat). Di daerah itu sendiri, kecuali Gereja Portugis Sion, rumah-rumah elit dan peristirahatan Belanda sudah tak satu pun tersisa. Kini yang ada hanyalah pertokoan, perkantoran, perbankan, dan pasar. Padahal di tempat ini pula lah dahulu Pieter Erberveld dihukum dengan kejam oleh Pemerintah VOC (zaman Gubernur Jenderal Henricus Zwaardecroon) dengan tuduhan perencanaan pemberontakan.

Batavia, 22 April 1722, Pieter Erberveld, Raden Kartadria, dan tujuh belas pengikutnya diajukan ke Pengadilan yang dilakukan di depan Stadhuis. Hukuman yang dijatuhkan pada Pieter Erberveld merupakan hukuman yang tidak lazim dan biadab, bahkan mungkin terlalu kejam untuk ukuran zaman mana pun di Batavia. Pada tanggal itu, setelah tubuhnya dicincang dan jantungnya dicopot, tangan dan kaki Erberveld diikat tali dengan masing-masing dihubungkan ke seekor kuda yang menghadap empat penjuru berbeda hingga tubuh itu pecah menjadi empat bagian. Setelah itu kepala Erberveld dipenggal dan ditancapkan di atas tonggak yang kemudian dipajang di gerbang rumahnyha dekat tempat dia dikeksekuis sebagai peringatan terhadap masyarakat. Sejak itulah lokasi tempat eksekusi itu dinamakan Kampung atau Jalan Pecah Kulit, dan dibuat sebuah monumen. Monumen itu sendiri merupakan peringatan dan larangan untuk orang-orang beraktivitas di daerah tersebut oleh Pemerintah VOC.

Seiring perjalan waktu, peristiwa itu lambat laun terlupakan. Semasa pendudukan Jepang, bahkan peninggalan-peninggalan yang mengingatkan pada penjagalan itu dihilangkan seperti monumen tengkorak tempat Erberveld dieksekusi. Satu-satunya monumen tersisa ada di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta.

Monumen itu berupa batu berukuran 1 x 2 meter. Pada batu itu tertera Sembilan baris tulisan dalam bahasa Belanda berhuruf latin. Di bawah tuisan berbahasa Belanda itu juga diterakan terjemahan dalam bahasa Jawa Baru yang ditulis dengan huruf Jawa Kuno. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, bunyi papan peringaan itu kurang lebih sebagai berikut: Catatan, dari peringatan (yang) menjijikkan pada si jahil terhadap Negara yang telah dihukum: Pieter Erberveld. Dilarang, orang mendirikan rumah, gedung, atau memasang papan kayu, demikian pula bercocok tanam di tempat ini, sekarang sampai selama-lamanya. Selesai.

Sumber:

  1. Ito, E.S. 2008. Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC. Bandung : Hikmah Mizan.
  2. Shahab, A. 2004. Betawi: Queen of the East. Jakarta : Republika.

Onrust, Bidadari, Kelor, Cipir

Foto-foto waktu PTD tanggal 3 Agustus 2008.




pagi hari antri ambil nametag peserta di halaman Stadhuis (Museum Sejarah Jakarta)


Wuih ternyata pesertanya banyak banget ya :)


Berburu tandatangan E.S. Ito, penulis buku Rahasia Meede


Minta tandatangan untuk buku-bukunya Pak Alwi Shahab.


Gedung Dasaad Musin Concern di depan Museum Sejarah Jakarta

Antri menuju perahu di Muara Kamal

Menuju Pulau Onrust, hmmm...dibagi roti buaya...

Di reruntuhan di Pulau Onrust

Hmm...ikan bakar, makan siang di Pulau Onrust


Pulau Cipir terlihat dari jauh


Makam Maria Van de Velde di Pulau Onrust

Pulau Kelor yang indah, tapi sayang kami tidak berlabuh di sana


Tiba di Pulau Bidadari


Ups... dari mana tuh?

Menara Mortello di Pulau Bidadari

Menuju Pulau Cipir

Reruntuhan di Pulau Cipir

"Prasasti" di Pulau Cipir