Kampung Pecah Kulit

Pieter Erberveld, seorang burgerij, warga keturunan Eropa (ayah Jerman-Belanda dan ibu kulit cokelat, ada yang menyebut dari Jawa namun ada yang menyebut juga ibunya turunan Siam). Ayah dari Pieter Erberveld memang berasal dari Jerman. Tepatnya berasal dari Kota Erberfeld, terletak di barat Jerman. Pada tahun 1929, kota kecil itu bersama dengan lima kota lainnya: Barmen, Cronenberg, Ronsdorf, Vohwinkel, dan Beyebburg bergabung membentuk Kota Wuppertal.

Erberveld merupakan seorang tuan tanah di daerah Jacatraweg (kawasan elit zaman dulu di sekitar Gereja Sion) sekitar 1 km dari Stasiun Jakarta Kota (saat ini nama tempat itu kira-kira di daerah Kelurahan Pinangsia, Jakarta Pusat). Di daerah itu sendiri, kecuali Gereja Portugis Sion, rumah-rumah elit dan peristirahatan Belanda sudah tak satu pun tersisa. Kini yang ada hanyalah pertokoan, perkantoran, perbankan, dan pasar. Padahal di tempat ini pula lah dahulu Pieter Erberveld dihukum dengan kejam oleh Pemerintah VOC (zaman Gubernur Jenderal Henricus Zwaardecroon) dengan tuduhan perencanaan pemberontakan.

Batavia, 22 April 1722, Pieter Erberveld, Raden Kartadria, dan tujuh belas pengikutnya diajukan ke Pengadilan yang dilakukan di depan Stadhuis. Hukuman yang dijatuhkan pada Pieter Erberveld merupakan hukuman yang tidak lazim dan biadab, bahkan mungkin terlalu kejam untuk ukuran zaman mana pun di Batavia. Pada tanggal itu, setelah tubuhnya dicincang dan jantungnya dicopot, tangan dan kaki Erberveld diikat tali dengan masing-masing dihubungkan ke seekor kuda yang menghadap empat penjuru berbeda hingga tubuh itu pecah menjadi empat bagian. Setelah itu kepala Erberveld dipenggal dan ditancapkan di atas tonggak yang kemudian dipajang di gerbang rumahnyha dekat tempat dia dikeksekuis sebagai peringatan terhadap masyarakat. Sejak itulah lokasi tempat eksekusi itu dinamakan Kampung atau Jalan Pecah Kulit, dan dibuat sebuah monumen. Monumen itu sendiri merupakan peringatan dan larangan untuk orang-orang beraktivitas di daerah tersebut oleh Pemerintah VOC.

Seiring perjalan waktu, peristiwa itu lambat laun terlupakan. Semasa pendudukan Jepang, bahkan peninggalan-peninggalan yang mengingatkan pada penjagalan itu dihilangkan seperti monumen tengkorak tempat Erberveld dieksekusi. Satu-satunya monumen tersisa ada di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta.

Monumen itu berupa batu berukuran 1 x 2 meter. Pada batu itu tertera Sembilan baris tulisan dalam bahasa Belanda berhuruf latin. Di bawah tuisan berbahasa Belanda itu juga diterakan terjemahan dalam bahasa Jawa Baru yang ditulis dengan huruf Jawa Kuno. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, bunyi papan peringaan itu kurang lebih sebagai berikut: Catatan, dari peringatan (yang) menjijikkan pada si jahil terhadap Negara yang telah dihukum: Pieter Erberveld. Dilarang, orang mendirikan rumah, gedung, atau memasang papan kayu, demikian pula bercocok tanam di tempat ini, sekarang sampai selama-lamanya. Selesai.

Sumber:

  1. Ito, E.S. 2008. Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC. Bandung : Hikmah Mizan.
  2. Shahab, A. 2004. Betawi: Queen of the East. Jakarta : Republika.

4 comments:

  1. Dan van Aken (dava@dava.demon.nl)September 03, 2008 7:04 pm

    L.S.,
    As a Dutch teacher in history I survey the whereabouts of Pieter Erberfeld. This man is in Holland still regarded as being a criminal. I think there is another story, and I am willing to tell that story. I therefore need as much publications about Pieter Erberfeld as possible. I prefer English, German, French or Dutch. Can somebody help me out ? For instance with a translation of the article regarding Erberfeld on this website. I would be so grateful.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. dear, Dan Van Aken

    if u want to know about pieter erberfeld story, i will recommend u to read a book which title is "Historical Sites of Jakarta" and the author A. Hauken SJ.

    Story pieter erberfeld on pages 143-147 in that book (seventh revised edition)

    enjoy, peace and love

    ReplyDelete
  4. monument of Pieter Erberveld can be found at Museum Taman Prasasti near the Mayor of Jakarta Pusat office.

    I just visited that museum a few days ago.

    ReplyDelete

Please, leave your comment here. Don't forget to put your name ... Anonymous is not recommended. Thanks :)