Olimpiade Taman Bacaan Anak 2008

Minggu, 27 Juli 2008. Yup, it’s the D-Day for Olimpiade Taman Bacaan Anak (OTBA) 2008 yang diselenggarakan oleh Komunitas 1001 Buku di WTC Mangga Dua. Setelah minggu sebelumnya Technical Meeting dan H-1 acara gladi resik, akhirnya tiba juga di acara puncak. Sekitar jam 6 pagi semua relawan sudah berkumpul dan kemudian berpencar sesuai dengan tugas masing-masing. Kebetulan aku salah satu relawan untuk LO, jadi tugasku mendampingi anak-anak dari salah satu Taman Bacaan Anak (TBA) selama seharian acara itu berlangsung. Aku bertugas jadi LO untuk TBA Rumah Singgah Kunia barengan Aster dengan jumlah anak sekitar 30 orang. Total anak seluruhnya kayanya sampe deh 500 orang dan kalo jumlah relawan kayanya kurang lebih 200 orang.

Hmm…sebenernya ini bukan pertama kali buatku jadi pendamping anak-anak. Dulu jaman kuliah pun pernah jadi seorang “kakak” untuk adik-adik binaan. Tapi kemarin pas OTBA itu kebetulan dapet TBA dimana anak-anaknya “anak jalanan”. Benar-benar sebuah pengalaman mengesankan yang tak terlupakan. Pagi-pagi bagi kaos, tanda peserta, dan pin buat adik-adik tersebut. Trus bagiin snack buat sarapan. Abis itu membimbing mereka ke tempat pembukaan. Tapi yaa namanya juga anak-anak. Tidak semua berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Mereka lari kesana kemari, bulak-balik ke toilet, apalagi dengan tempat seluas WTC Mangga Dua, mereka bisa menikmati lari-lari dari satu lantai ke lantai lain dengan tertawa gembira. Apalagi untuk anak-anak jalanan yang memiliki akses terbatas untuk pengetahuan dan perhatian, mereka benar-benar menikmati hari tersebut. Ada adik yang selalu narik-narik tanganku, pegangan terus, sampe pengen dianter kemana-mana :D

Setelah acara pembukaan selesai, Aku dan Aster mengantar dua orang adik untuk lomba mewarnai. Trus 10 orang untuk lomba marathon…seru banget…walopun mereka gagal di puzzle tapi dengan cepat bisa menyusun gelang dan piramida gelas…hebaaaaaattttttt….. Setelah lomba itu selesai, kami istirahat sejenak untuk makan siang. Jam 1 siang ada 6 orang adik yang ikut lomba gambar. Sementara keenam orang adik itu lomba, kami bersama adik-adik lainnya berkeliling melihat pameran dan display. Kemudian duduk lesehan di perpustakaan kecil yang disediakan panitia. Sebagian mereka baca-baca dan main puzzle tapi anak lainnya lari-lari entah kemana. Akhirnya aku ma Aster membiarkan mereka kemana saja dengan syarat nanti balik lagi ke perpustakaan lesehan itu. Wekekek…cape juga mesti ikut lari-lari ngejar mereka. Trus at 3 p.m, kami semua berkumpul lagi depan panggung untuk dengerin adik-adik dari TBA yang lolos ke grand final lomba dongeng, ada empat TBA yang lolos. Setelah itu ada dongeng dari Pak Raden.

Aku sendiri sangat kelelahan … jadinya hanya duduk di belakang adik-adik yang asyik dengerin Pak Raden. Sekitar 5.30 p.m pengumuman semua pemenang lomba dan juara OTBA 2008. Wuih…Alhamdulillah selesai juga. Setelah perpisahan dengan TBA, panitia kemudian ada kumpul buat evaluasi dan foto-foto…. Legaaaaaaaa…Alhamdulillah acaranya lancar dan sangat menyenangkan menjadi bagian dari keceriaan anak-anak tersebut.


P.S. : Thanks to Aster, my partner, dan foto-fotonya. Makasih ya Aster, kita berdua mengalami suka-duka selama OTBA, dan Alhamdulillah berhasil melaluinya. Apalagi saat melihat senyum dan tawa anak-anak itu, aah sangat menyenangkan sekali. Benar-benar pengalaman tak terlupakan :)



Foto bareng tim relawan LO saat gladi resik, H-1, Sabtu, 26 Juli 2008.


Anak-anak dari TBA didampingi LO-nya siap buat lomba di OTBA 2008.

Pose-pose ceria dari adik-adik TBA Rumah Singgah Kurnia.


Lomba marathon bagian menyusun piramida gelas dengan bantuan karet gelang dan tali, adik-adik heebbaaaaattttttttt.....mereka cepet banget ngerjain ini :)

Santai sambil baca-baca buku. Minat baca mereka Subhanallah besar banget.


Pak Raden sedang mendongeng sekaligus menggambar.



Sertifikat relawan....hehehe...narsis banget nih pajang sertifikat segala.

--------- 31 Juli 2008 -1.38 p.m ----------------



DEMI MATAHARI

Weekend kemaren, sabtu 19 Juli, aku ma Catur ikutan lagi Training ESQ. Oh ya, aku ikutan ESQ September 2007. Karena sudah alumni, jadinya boleh datang ke ESQ kapan saja dimana saja.

Rasanya kangeeen banget setelah berbulan-bulan lama kami gak ikutan ESQ lagi. Aku sempet ngomong gini ke Catur, kayanya sekarang gak akan nangis lagi deh. Eeeh tapi ternyata tetep aja nangis, walaupun nangisnya gak separah waktu training pertama kali. Siapa yang gak akan nangis toh saat diingatkan dengan Allah, Rasulullah, orang tua kita, dan dosa-dosa yang pernah kita perbuat.

Alhamdulillah aku diberi kesempatan merasakan indahnya Training ESQ.

Oh ya, ada terjemahan Q.S. Asy-Syam ayat 1-10 yang selalu diulang-ulang saat Training ESQ oleh trainernya.

“Demi matahari dan sinarnya di pagi hari

Demi bulan apabila ia mengiringi

Demi siang hari bila menampakkan dirinya

Demi malam apabila ia menutupi

Demi langit beserta seluruh binaannya

Demi bumi serta yang ada di hamparannya

Demi jiwa dan seluruh penyempurnaannya

Allah mengilhamkan sukma kefasikan dan ketakwaan

Berutung bagi yang mensucikannya

Merugi bagi yang mengotorinya”

Tapi tentunya bahasa terjemahan tidak akan pernah bisa menyamai Bahasa Arab yang digunakan dalam Al-Quran.

Oh ya, bahkan terjemahan ayat tersebut dijadikan nasyid oleh Snada dengan judul “Demi Matahari”.

--------------23juli2008, 3.13p.m------------------


Foto-foto Malam Minggoean di Koeboeran

Niiih sebagian foto-foto waktu PTD kemarin...
ceritanya bisa dibaca disini alias di bawah postingan ini yaaa...



Peti jenazah yang ada di Museum Taman Prasasti.


Salah satu relief yang ada.


Salah satu patung di Komplek Kuburan.


Bang Adep dari BatMus lagi buka acara.

Kok, kaya penampakan sih?? Wakakak....
Tapi penampakannya geuLIES tuh :D


Pak Lilie (narasumber) sedang menjelaskan salah satu relief nisan yang ada.

Patung lagi yang ada di komplek koeboeran.

Nah, ini dia nisan dengan tulisan LUCIFER.

Nisan siapa ini??


R.I.P

The phrase "rest in peace" typically occurs on headstones, often abbreviated "RIP." "Rest in peace" is a prayer that the deceased may rest peacefully, not in torment, while awaiting Judgment Day. The expression comes originally from "requiescat in pace", Latin for "may he/she rest in peace." In Italian, it is said as "Riposi In Pace." (Info dari Mike)







Malam Minggoean di Koeboeran

Malam minggoean di bioskop ato di Mall?? Sudah biasaaa… Malam minggoean di Koeboeran??? Baru luar biasaa… (sesuai tagline-nya BatMus hehehe…)

Hari Sabtu kemaren (5 Juli 2008) aku ikutan program PTD-nya (Plesiran Tempo Doeloe) BatMus (Sahabat Museum). Sebetulnya udah lumayan lama sih ikutan milist BatMus, tapi gak pernah ikutan PTD-nya. Baru kali ini tertarik ikutan. Yaa karena kebetulan juga belum pernah mengunjungi Museum Taman Prasasti di Petojo sana. Lagipula kali-kali donk malam mingguan di kuburan, jangan ke Mall mulu :D

Ngajak Ema, dengan mentah-mentah dia menolak (katanya yee..ngapain malem-malem ke sarean). Hehehe … duuuh Mbak, kok takut banget sih. Ngajak Catur, eeh dia juga gak bisa karena mesti ke rumah Mbak-nya di Pondok Kelapa. Akhirnya yang tersisa untuk diajak tinggal Mike. So, pergi berdua deh bareng Mike.

Sebelum pergi, ngecek dulu ke Ema, makanan, DVD, dan buku sudah ada buat nemenin dia sendirian di kost. Dia bilang, katanya yaa percuma aja semua itu kalo di kost mati lampu. Aku bilang, eh Jeng, jangan ngomong gitu, ntar kejadian lho. Trus aku minjem senternya Ema. Eeeh dia gak mau tuh senternya dibalikin setelah dipinjem, katanya gak mau ah, udah dibawa jalan-jalan ke sarean (duuh Mbak, gpp kali, segitunya sih :D)

Akhrinya aku dan Mike pergi at 5 p.m. ke Blok M, kemudian naik Busway dan turun di Halteu Museum Nasional (tuh Busway sabtu sore ternyata penuh banget). Sesuai petunjuk yang dikasi via e-mail, turun dari Busway, kami jalan kaki menyusuri Jalan Museum terus belok kanan menyusuri Jl. Abd. Muis, kemudian belok kiri menyusuri Jl. Tanah Abang I sampe mentok hingga akhirnya kami sampe di Museum Taman Prasasti.

Saat itu registrasi ulang belum dibuka. Jadi, aku shalat maghrib dulu di Mushola di pinggir kuburan sana. Sementara itu si Mike liat-liat nisan yang ada. Pas aku selesai shalat, dia nunjukin ada nisan dengan tulisan LUCIFER. Trus kita bertanya-tanya, kenapa ya orang itu dijulukin LUCIFER (wakakak…ini sih mode sok tau kita on! Ya iyalah, tulisan di nisan itu bahasa Belanda, dan kami gak ngerti sama sekali bahasa Belanda, sok banget deh kita nebak-nebak artinya).

Setelah itu, kami antri buat registrasi dan mendapatkan nametag. Kemudian, kami masih harus menunggu acara dimulai. Pesertanya lebih dari 100 orang lho (mulai dari anak kecil sampe yang udah sepuh), jadinya rame banget. Sambil menunggu acara kami ngabisin coklat m&m yang aku bawa (hehehe… padahal itu coklat sisa dua hari yang lalu, sisa cemilan abis nonton Kungfu Panda, belum abis-abis).

Sekitar jam 19.15 ato lebih dikit acara dimulai, dibuka oleh Adep dari BatMus. Kami semua duduk di lantai Beranda Museum. Tidak lama setelah itu datang narasumber yang ditunggu-tunggu yaitu Pak Lilie.

Pak Lilie menceritakan asal mula Museum Prasasti dan kuburan Belanda yang ada disana. Jadi, jaman dulu tuh, orang-orang Belanda menguburkan orang di Gereja. Namun, karena kebiasaan itu tidak sehat, jadi dibuka Kebon Jahe Kober (Koeboeran Bersama). Kemudian menjelaskan nisan-nisan yang ada di Beranda Museum Taman Prasasti dengan pilar-pilarnya (pilar yang ada di situ namanya pilar Doria).

Ehh disela-sela Pak Lilie cerita dibagiin nasi uduk. Hmmm…jadinya sambil denger pelajaran sejarah sambil makan nasi uduk yang maknyus..Alhamdulillah.

Oh ya, setelah selesai acara duduk-duduk di Beranda Museum…acara dilanjutkan dengan keliling ke itu koeboeran Belanda. Kata Pak Lilie, kuburan yang ada disitu banyak juga yang pindahan dari Gereja yang sekarang jadi Museum Wayang dan Gererja Sion. Kalo diliat-liat ya, umur para orang Belanda itu rata-rata di bawah 50 tahun saat meninggal. Bahkan banyak juga yang berusia di bawah 40 tahun. Makanya kata Pak Lilie juga, saat itu Batavia dikenal juga dengan sebutan koeboeran bagi orang kulit putih. Mungkin bisa juga karena wabah penyakit saat itu.

(Pas lagi keliling-keliling kuburan, ada sms dari Ema sekitar jam 21.00, katanya di kost-an beneran mati lampu sekitar sejam. Wakakak…duuuh Mbak, makanya tadi sore jangan asal ngomong deh, tuuuh kan akhirnya kejadian beneran mati lampu. Abis diajakin juga gak mau sih si Mbak :D)

Masih keliling kuburan dengan penerangan senter yang hampir setiap peserta bawa, Pak Lilie menceritakan beberapa nisan yang kami lewati. Beliau menerjemahkan tulisan-tulisan dalam nisan karena berbahasa Belanda. Di komplek Kober itu juga terlihat beberapa patung dan lambang-lambang keluarga Belanda jaman dulu (wah kalo siang bisa lebih jelas keliatan tuh gambar). Oh iya, ada juga lho nisannya So Hok Gie, tapi nisannya doank, kan abu So Hok Gie disebar ke laut.

Tidak terasa keliling-keliling Kober itu sudah sampe jam 10 malam. Gak terasa seram lho maen ke kuburan malam-malam (ya iyalah secara gitu pesertanya banyak kekeke…) yaa…sekalian juga mengingat masa depan, toh nanti juga kita semua akan terbaring seperti itu. Pokonya tuh acara seru banget deh. Gak rugi ikutan PTD.

Oh ya, pas mau keluar komplek kuburan baru keliatan tuh rusa penghuni Museum. Kirain tuh rusa cuma ada di Monas doank. Ternyata di kuburan juga ada. Hihihi… rusanya lucu banget.

July 6, 2008, 3.33 p.m di kost.